LANGIT7.ID, Jakarta - Pengasuh
Parenting Fatherman, Ustaz Bendri Jaisyurrahman, menilai masalah remaja saat ini begitu mudah diuraikan. Hal itu tidak bisa dipungkiri, sebab realitasnya memang begitu, banyak orang tua geram dengan perilaku anak remaja zaman
now.Akan tetapi, memandang remaja sebatas biang masalah tanpa menyadari banyak juga remaja berprestasi mengagumkan, akan memberikan pengaruh bagi jiwa. Aura negatif dan
labeling disertai kecemasan lebih mendominasi sebagian besar orang tua dalam mengasuh mereka.
“Alhasil, begitu berhadapan dengan remaja berbagai prasangka muncul: ‘Jangan-jangan kamu udah nonton film porno ya?’, ‘Jangan-jangan dia sudah mulai pacaran’, ‘Sepertinya dia udah mulai ngelawan deh, ngikutin temen-temennya’,” kata Ustadz Bendri melalui akun media sosialnya, Sabtu (18/3/2023).
Baca Juga: Gaya Hesti Purwadinata Tetap Cantik Pakai Kebaya 100 RibuanBanyak pula prasang lain yang menjadikan wajah orang tua saat berhadapan dengan remaja lebih sering sebagai investigator ketimbang sahabat. Anak remaja seolah-olah berada di ruang KPK dan mereka ditempatkan sebagai tersangka yang sedang dipaksa mengakui kesalahan.
“Di mata remaja, yang tampak dari orang tua bukanlah wajah kehangatan pembuat hati nyaman, tetapi wajah penuh terror bak
debt collector nagih utang. Ujung-ujungnya remaja makin menjauh dan hubungan makin runyam,” ucap Ustaz Bendri.
Dari situ orang tua makin gusar. Rasanya sudah jadi orang tua yang baik dan memenuhi kemauan anak di saat remaja, tetapi, anak remaja malah menjauh bahkan tertutup dan enggan untuk berbicara.
Baca Juga: Melalui Fesyen Berkelanjutan, KaIND Berdayakan Petani dan Anak MudaOrang tua pun mencari alibi bahwa anaknya
introvert. Padahal, sejatinya tidak ada anak yang introvert di hadapan orang tuanya melainkan anak yang terluka dan kecewa. Hal ini yang harus dipahami setiap orang tua dalam memahami remaja.
“Kalau anak sudah terlanjur menjauh di saat remaja, bahkan menutup diri dari orang tuanya, terus gimana? Orang tua harus memulai kembali menumbuhkan rasa nyaman dalam jiwa anak remajanya. Menjalin koneksi sebelum mengoreksi,” ungkap Ustaz Bendri.
Begini Cara Mendidik RemajaPadangan bahwa remaja diasosiasikan sebagai pribadi bermasalah muncul pertama kali dari riset Stanley Hall terhadap ribuan anak muda di Barat, yang rata-rata memiliki perilaku yang sama, yaitu kerap membuat kesal dan melawan. Ustaz Bendri menyebut bahwa ini metode Barat dalam pengasuhan telah gagal.
Baca Juga: Desainer Lisa Fitria Rilis Koleksi Istimewa, Teman Tapi MesraUniknya, sebagian ahli di Arab pun mengiyakan pernyataan Stanely Hall. Bahkan, muncul istilah baru dalam bahasa Arab menyebut remaja dengan
Al-Muraahaqa, mengambil kata rahaqa dalam Surah Al-Jin ayat 5 yang artinya pelaku dosa.
“Jadi, remaja sudah dilabel sebagai pelaku dosa. Seolah-olah itu adalah kelaziman seluruh remaja di dunia. Padahal, jika riset itu dilakukan ke remaja Palestina atau mundur ke belakang ke generasi sahabat, tentu lain hasilnya,” ucap Ustaz Bendri.
Padahal, menurut Ustaz Bendri, remaja menurut KBBI definisinya sangat elok, yaitu mulai dewasa dan siap untuk kawin. Artinya, status remaja diakui sebagai orang dewasa dengan kesiapannya untuk menikah. Dalam kurun waktu inilah seharusnya peran mentor atau
coach lebih dibutuhkan. Bukan ceramah yang dibutuhkan remaja, etapi bimbingan dan bukan mengkritik tapi memberi solusi.
Baca Juga: Cerita Tania Ray Mina Rilis Koleksi Ramadhan hingga Eksistensi di Masa Pandemi“Orang tua pun harus banyak mendengar. Jangan banyak bicara apalagi ngegas. Ketahuilah, kenapa mereka disebut remaja, karena inilah masa orang tua dilarang ngegas, rem aja. Jadilah remaja,” tutur Ustaz Bendri.
(jqf)