home global news

Kritik Dino Patti Djalal dan Pentingnya Diplomasi yang Terbuka

Rabu, 24 Desember 2025 - 09:05 WIB
Kritik Dino Patti Djalal dan Pentingnya Diplomasi yang Terbuka
Oleh: Anwar Abbas

LANGIT7-Kritik yang disampaikan Dino Patti Djalal kepada Menteri Luar Negeri Sugiono sejatinya bukan sesuatu yang luar biasa. Kritik itu bersifat wajar, moderat, dan mencerminkan kepedulian terhadap arah diplomasi Indonesia ke depan. Inti pesannya sederhana: diplomasi luar negeri tidak cukup dijalankan secara elitis, tetapi membutuhkan komunikasi yang terbuka dengan masyarakat di dalam negeri.

Gagasan ini berpijak pada realitas bahwa politik luar negeri bukan sekadar urusan meja perundingan internasional. Ia juga merupakan refleksi dari kekuatan domestik. Ketika masyarakat memahami tujuan, arah, dan strategi diplomasi negara, maka dukungan publik akan tumbuh, partisipasi meningkat, dan potensi nasional dapat dimaksimalkan untuk menopang kepentingan Indonesia di panggung global.

Sebaliknya, absennya komunikasi yang sehat antara Menteri Luar Negeri dan elemen masyarakat berisiko menciptakan jarak. Diplomasi menjadi eksklusif, sulit dipahami, dan kehilangan basis sosialnya. Dalam kondisi seperti ini, sebesar apa pun capaian diplomasi di luar negeri, legitimasi di dalam negeri akan rapuh. Dunia internasional pun tidak hanya menilai hasil, tetapi juga konsistensi dan kekuatan internal suatu bangsa.

Kritik yang disampaikan Dino Patti Djalal justru menekankan pentingnya proses dalam kepemimpinan. Kepemimpinan tidak semata diukur dari target yang tercapai, tetapi juga dari cara tujuan itu dirumuskan, dikomunikasikan, dan dijalankan. Proses yang sehat akan melahirkan hasil yang berkelanjutan. Diplomasi yang kuat di luar negeri hampir mustahil berdiri kokoh tanpa dukungan situasi domestik yang solid.

Sayangnya, kritik yang bernada konstruktif ini justru disikapi secara negatif oleh salah satu menteri di kabinet. Respons yang muncul memberi kesan bahwa loyalitas personal lebih diutamakan daripada evaluasi objektif. Pendekatan semacam ini berbahaya karena menutup ruang koreksi dan mematikan budaya diskusi yang sehat dalam pemerintahan.

Padahal, kritik bukanlah serangan, melainkan instrumen perbaikan. Dalam sistem demokrasi, kritik berfungsi sebagai alarm agar kekuasaan tetap berada di rel yang benar. Ketika pejabat publik alergi terhadap kritik, yang terancam bukan hanya kualitas kebijakan, tetapi juga kepercayaan rakyat.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya