Gangguan Mental Bukanlah karena Jin, Dosa atau Jauh dari Allah
Muhajirin
Senin, 11 Oktober 2021 - 09:28 WIB
ilustrasi pria sedang dalam depresi (foto: langit7.id/istock)
Tak sedikit orang yang menyederhanakan mental illness atau gangguan mental dalam Islam semata-mata akibat seseorang diganggu oleh jin atau karena ia jauh dari Allah.
Ulama asal Australia, Syekh Mohamed Hoblos, menegaskan, gangguan mental bukan hukuman bagi seseorang. Ia membantah asumsi masyarakat yang menyebut gangguan mental disebabkan karena gangguan jin sehingga harus diruqyah.
Ada pula asumsi yang menyebut, orang yang mengalami gangguan mental pernah melakukan dosa sehingga dia mendapatkan hukuman dari Allah Ta’ala. Atau ada pendapat lain yang mengatakan mental seseorang tidak stabil karena jarang beribadah dan jauh dari Allah.
Keberadaan orang dengan gangguan mental atau gangguan jiwa merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dan diriwayatkan dalam sebuah hadits, pernah datang seorang wanita kepada Rasulullah SAW. wanita itu berkata;
"Ya Rasulullah saya memiliki kondisi jiwa yang membuat saya kadang lepas kontrol. Bisakah anda berdoa pada Allah dan meminta-Nya untuk menyembuhkan saya?”
Maka Rasulullah berkata kepadanya, “lihat, kamu memiliki satu dari dua pilihan. Aku dapat meminta kepada Allah untuk menyembuhkanmu dan kamu akan sembuh. Atau kamu dapat bersabar dengan penyakitmu, dan bagimu surga.”
Dalam riwayat tersebut, tampak Rasululah menyebut gangguan mental adalah penyakit, bukan hukuman. Sebagaimana dalam medis psikologi dijelaskan, gangguan mental adalah kondisi yang mempengaruhi cara berpikir atau berperilaku seseorang.
Ulama asal Australia, Syekh Mohamed Hoblos, menegaskan, gangguan mental bukan hukuman bagi seseorang. Ia membantah asumsi masyarakat yang menyebut gangguan mental disebabkan karena gangguan jin sehingga harus diruqyah.
Ada pula asumsi yang menyebut, orang yang mengalami gangguan mental pernah melakukan dosa sehingga dia mendapatkan hukuman dari Allah Ta’ala. Atau ada pendapat lain yang mengatakan mental seseorang tidak stabil karena jarang beribadah dan jauh dari Allah.
Keberadaan orang dengan gangguan mental atau gangguan jiwa merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dan diriwayatkan dalam sebuah hadits, pernah datang seorang wanita kepada Rasulullah SAW. wanita itu berkata;
"Ya Rasulullah saya memiliki kondisi jiwa yang membuat saya kadang lepas kontrol. Bisakah anda berdoa pada Allah dan meminta-Nya untuk menyembuhkan saya?”
Maka Rasulullah berkata kepadanya, “lihat, kamu memiliki satu dari dua pilihan. Aku dapat meminta kepada Allah untuk menyembuhkanmu dan kamu akan sembuh. Atau kamu dapat bersabar dengan penyakitmu, dan bagimu surga.”
Dalam riwayat tersebut, tampak Rasululah menyebut gangguan mental adalah penyakit, bukan hukuman. Sebagaimana dalam medis psikologi dijelaskan, gangguan mental adalah kondisi yang mempengaruhi cara berpikir atau berperilaku seseorang.