LANGIT7.ID - Tak sedikit orang yang menyederhanakan mental illness atau gangguan mental dalam Islam semata-mata akibat seseorang diganggu oleh jin atau karena ia jauh dari Allah.
Ulama asal Australia, Syekh Mohamed Hoblos, menegaskan, gangguan mental bukan hukuman bagi seseorang. Ia membantah asumsi masyarakat yang menyebut gangguan mental disebabkan karena gangguan jin sehingga harus diruqyah.
Ada pula asumsi yang menyebut, orang yang mengalami gangguan mental pernah melakukan dosa sehingga dia mendapatkan hukuman dari Allah Ta’ala. Atau ada pendapat lain yang mengatakan mental seseorang tidak stabil karena jarang beribadah dan jauh dari Allah.
Keberadaan orang dengan gangguan mental atau gangguan jiwa merupakan bagian dari kehidupan manusia. Dan diriwayatkan dalam sebuah hadits, pernah datang seorang wanita kepada Rasulullah SAW. wanita itu berkata;
"Ya Rasulullah saya memiliki kondisi jiwa yang membuat saya kadang lepas kontrol. Bisakah anda berdoa pada Allah dan meminta-Nya untuk menyembuhkan saya?”
Maka Rasulullah berkata kepadanya, “lihat, kamu memiliki satu dari dua pilihan. Aku dapat meminta kepada Allah untuk menyembuhkanmu dan kamu akan sembuh. Atau kamu dapat bersabar dengan penyakitmu, dan bagimu surga.”
Dalam riwayat tersebut, tampak Rasululah menyebut gangguan mental adalah penyakit, bukan hukuman. Sebagaimana dalam medis psikologi dijelaskan, gangguan mental adalah kondisi yang mempengaruhi cara berpikir atau berperilaku seseorang.
Menurutnya Syekh Mohamed, gangguan mental adalah penyakit yang nyata, sama nyatanya seperti penyakit kangker. Gangguan mental bukan juga kemalasan, bukan pola makan yang buruk, bukan untuk mencari perhatian, dan bukan kelemahan fisik, mental, dan kelemahan spiritual.
“Gangguan mental itu sangat serius sehingga tidak ada salahnya dan tidak perlu malu untuk mencari bantuan profesional. Rasulullah pernah bersabda, tidak ada penyakit yang Allah turunkan kecuali Dia juga telah menurunkan obatnya,” kata Syekh Mohamed Hoblos melalui kanal youtube Onepath Network, dikutip Senin (11/10/2021).
Baca Juga: Marshanda : Self Diagnosis Kesehatan Jiwa Harus Dilakukan oleh Profesional
Menurut Saad Riyadh dalam buku Jiwa dalam Bimbingan Rasulullah SAW, baginda nabi menjelaskan kesehatan dan kestabilan jiwa (mental) seseorang memiliki beberapa indikasi, di antaranya rasa aman dalam berbagai aspek.
“Siapa yang menyongsong pagi hari dengan perasaan aman terhadap lingkungan sekitar, kondisi tubuh yang sehat, serta adanya persediaan makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dia telah memperoleh seluruh kenikmatan dunia.” (HR Tirmidzi).
Kestabilan jiwa juga ditandai dengan sikap mandiri dan tidak meminta-minta kepada orang lain. Rasulullah SAW bersabda, ‘Demi jiwaku yang berada dalam genggaman-Nya, tindakan kalian mengambil seutas tali lalu mencari kayu bakar kemudian memikulnya di atas punggung adalah lebih baik ketimbang mendatangi seseorang lalu meminta-minta kepadanya, baik ia kemudian diberi sedekah atau tidak.” (HR Bukhari).
(jqf)