Kolom Ekonomi Syariah: Kemana 60 Ttriliun dana Restorasi Banjir Sumatra?
Tim langit 7
Senin, 05 Januari 2026 - 05:00 WIB
Kolom Ekonomi Syariah: Kemana 60 Ttriliun dana Restorasi Banjir Sumatra?
Oleh: Prof. bambang setiaji dan Dr. Suyoto
LANGIT7.ID-Kemana 60 triliun dana restorasi banjir bandang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat ? Jawabnya tergantung dari pilihan proyek yang dibuat, pilihan bahan yang dipakai dan dibeli, serta pertimbangan kompleks sejauh mana para penyelenggara concern terhadap restorasi ekonomi rakyat di sana.
Ekonomi rakyat paska bencana tentu saja hancur karena pertanian dan perikanan, pasar, pabrik pabrik kecil yang menyatu dengan rumah tinggal mereka musnah. Maka dari itu 60 triliun bisa sangat bermakna jika benar diputar untuk membuat proyek yang dibutuhkan oleh rakyat setempat dan bahannya bisa dibuat oleh rakyat setempat. Dana 60 triliun bahkan bisa menjadi berkah ekonomi dari banjir bandang, inna ma’al usri yusra--sesungguhnya di tengah kesulitan ada kesempatan atau kemudahan. Bagaimana menyulap bencana menjadi berkah.
Dan, itulah yang dilakukan oleh Kang Yoto, Bupati Bojonegoro yang terkenal di belahan dunia, World Bank bahkan pernah mengangkat Bojonegoro sebagai pilot proyek kepemimpinan Suyoto yang terkenal dengan “PAVINGISASI” . Paving dibutuhkan untuk keperluan jalan di kampung kampung Bojonegoro, kemudian paving tersebut diproduksi oleh rakyat, dipasang oleh rakyat dengan mudah, untuk membuat jalan rakyat. Bahan baku utama pasir ada dan hanya membutuhkan semen. Bandingkan jika pilihannya jalan ke kampung kampung itu diaspal dengan hadirnya pemborong, maka dana kabupaten yang tidak seberapa akan terkonsentrasi kepada pemborong dan bocor ke luar belanja aspal.
Mirip dengan kasus Bojonegoro dengan proyek “PAVINGISASI” di Aceh dan dua provinsi yang lain bisa dijalankan proyek perumahan dan fasilItas publik dengan bahan dasar lumpur dan kayu. Pilihannya bukan hollow galvanis, dan GRC, tetapi batu bata, kayu kiriman banjir, paving berbahan lumpur, dan genting. Sambil menyelam minum air, yaitu sambil membersihkan lumpur yang menggenang. Para ahli bangunan harus memikirikan pembuatan batu bata, lantai paving dari tanah, dan genting tanah dari lumpur yang dikirim. Secara teknis diperlukan tambahan misalnya kandungan tanah liat terutama untuk genting supaya tidak retak, tetapi untuk paving bata dan dinding bata hal tersebut lebih longgar.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Bila Mas Wapres Berkantor di Papua
LANGIT7.ID-Kemana 60 triliun dana restorasi banjir bandang Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat ? Jawabnya tergantung dari pilihan proyek yang dibuat, pilihan bahan yang dipakai dan dibeli, serta pertimbangan kompleks sejauh mana para penyelenggara concern terhadap restorasi ekonomi rakyat di sana.
Ekonomi rakyat paska bencana tentu saja hancur karena pertanian dan perikanan, pasar, pabrik pabrik kecil yang menyatu dengan rumah tinggal mereka musnah. Maka dari itu 60 triliun bisa sangat bermakna jika benar diputar untuk membuat proyek yang dibutuhkan oleh rakyat setempat dan bahannya bisa dibuat oleh rakyat setempat. Dana 60 triliun bahkan bisa menjadi berkah ekonomi dari banjir bandang, inna ma’al usri yusra--sesungguhnya di tengah kesulitan ada kesempatan atau kemudahan. Bagaimana menyulap bencana menjadi berkah.
Dan, itulah yang dilakukan oleh Kang Yoto, Bupati Bojonegoro yang terkenal di belahan dunia, World Bank bahkan pernah mengangkat Bojonegoro sebagai pilot proyek kepemimpinan Suyoto yang terkenal dengan “PAVINGISASI” . Paving dibutuhkan untuk keperluan jalan di kampung kampung Bojonegoro, kemudian paving tersebut diproduksi oleh rakyat, dipasang oleh rakyat dengan mudah, untuk membuat jalan rakyat. Bahan baku utama pasir ada dan hanya membutuhkan semen. Bandingkan jika pilihannya jalan ke kampung kampung itu diaspal dengan hadirnya pemborong, maka dana kabupaten yang tidak seberapa akan terkonsentrasi kepada pemborong dan bocor ke luar belanja aspal.
Mirip dengan kasus Bojonegoro dengan proyek “PAVINGISASI” di Aceh dan dua provinsi yang lain bisa dijalankan proyek perumahan dan fasilItas publik dengan bahan dasar lumpur dan kayu. Pilihannya bukan hollow galvanis, dan GRC, tetapi batu bata, kayu kiriman banjir, paving berbahan lumpur, dan genting. Sambil menyelam minum air, yaitu sambil membersihkan lumpur yang menggenang. Para ahli bangunan harus memikirikan pembuatan batu bata, lantai paving dari tanah, dan genting tanah dari lumpur yang dikirim. Secara teknis diperlukan tambahan misalnya kandungan tanah liat terutama untuk genting supaya tidak retak, tetapi untuk paving bata dan dinding bata hal tersebut lebih longgar.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Bila Mas Wapres Berkantor di Papua