Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Polemik komedi Mens Rea yang tengah hangat diperbincangkan publik bukan sekadar debat mengenai batasan humor, melainkan sebuah momentum besar bagi bangsa ini untuk kembali belajar bercermin. Kritik, sepahit apa pun bentuknya, sejatinya adalah instrumen evaluasi untuk menakar sejauh mana sebuah institusi atau individu telah memberikan manfaat nyata bagi khalayak luas.
Kritik sebagai Tugas Suci dan Cermin DiriDalam dinamika sosial, keterbukaan terhadap kritik adalah tanda kematangan sebuah bangsa. Jika kritik yang datang dibalas dengan kelapangan dada, ia akan berubah menjadi energi untuk meningkatkan kualitas kebaikan yang sudah ada. Sebaliknya, jika di masa lalu terdapat kekurangan, kritik menjadi kompas untuk melakukan evaluasi total demi mencari solusi yang lebih bermakna.
Bagi organisasi yang memegang teguh nilai-nilai kemanusiaan, upaya menjadi "baik dan benar" bukanlah sekadar pilihan, melainkan sebuah tugas suci. Organisasi atau lembaga terbaik adalah mereka yang kehadirannya benar-benar dirasakan manfaatnya secara luas—melintasi batas umat, bangsa, hingga lingkungan. Kehadiran yang membawa maslahat adalah standar tertinggi dalam menilai eksistensi sebuah gerakan di Indonesia.
Teori Jungkat-Jungkit: Bahaya Dominasi PerasaanNamun, kritik juga menuntut etika dan proporsionalitas. Di sinilah pentingnya memahami fenomena psikologis yang bisa diibaratkan sebagai "Teori Jungkat-Jungkit". Dalam teori ini, terdapat hubungan terbalik antara emosi dan rasio:
1. Dominasi Perasaan: Ketika seseorang terlalu bersemangat atau emosional dalam melontarkan kritik, peran rasio dan pikiran cenderung menurun. Kritik yang lahir hanya dari luapan perasaan seringkali kehilangan substansi dan objektivitas.
2. Dominasi Pikiran: Sebaliknya, jika rasio terlalu kaku tanpa melibatkan perasaan, pertimbangan empati dalam menyampaikan pendapat bisa hilang.
Kunci dari komunikasi publik yang sehat adalah menjaga keseimbangan di titik tengah. Baik pihak yang mengkritik maupun yang dikritik harus mampu mengelola perasaan dan pikiran agar misi untuk menegakkan kebenaran tetap berada pada jalur yang tepat.
Menyelaraskan Kebaikan dan Kebenaran dengan Nilai AgamaKebaikan seringkali merupakan buah dari kepekaan perasaan, sementara kebenaran adalah hasil dari olah pikir yang jernih. Namun, membiarkan keduanya berjalan tanpa kendali bisa berisiko. Pikiran dan perasaan manusia harus disinari dan dituntun oleh nilai-nilai ajaran agama.
Tujuannya jelas: agar setiap tindakan dan ucapan tidak hanya mendapatkan rida dari Tuhan, tetapi juga dapat diterima oleh masyarakat luas dengan cara yang bermartabat.
Pancasila sebagai Fondasi BerpendapatSebagai bangsa yang memiliki falsafah Pancasila, setiap perdebatan publik—termasuk dalam menyikapi komedi atau ekspresi seni—harus tetap berpijak pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Nilai ketuhanan ini menjadi pemandu agar kebebasan berpendapat tidak kebablasan dan tetap menjunjung tinggi moralitas.
Pada akhirnya, polemik Mens Rea adalah ujian bagi kedewasaan publik. Apakah kita mampu tetap tenang di tengah badai kritik, atau justru terhanyut dalam emosi yang menggerus akal sehat? Menjaga keseimbangan antara "rasa" dan "rasio" adalah jalan ninja menuju bangsa yang lebih beradab dan berkeadilan. (Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, serta Ketua PP Muhammadiyah)
(lam)