home masjid

Daftar Golongan yang Mendapat Dispensasi Tidak Berpuasa Ramadhan

Ahad, 15 Februari 2026 - 16:34 WIB
Agama hadir sebagai solusi, bukan sebagai beban tambahan bagi jiwa-jiwa yang sedang mengalami kesulitan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Di tengah kewajiban kolektif menahan lapar dan dahaga selama sebulan penuh, Islam menyimpan sebuah rahasia yang sering kali luput dari amatan sekilas: fleksibilitas yang luar biasa. Puasa Ramadhan, meski merupakan rukun Islam yang sangat fundamental, tidak dirancang sebagai beban yang menghimpit. Di balik instruksi yang mewajibkan, terdapat pintu-pintu darurat yang terbuka lebar bagi mereka yang terhalang oleh kondisi kemanusiaan yang nyata.

Persoalan ini dibedah secara filosofis dan teologis dalam buku Meraih Puasa Sempurna, yang diterjemahkan dari kitab Ash Shiyaam, Ahkaam wa Aa daab karya Dr. Abdullah bin Muhammad bin Ahmad ath Thayyar. Dalam buku terbitan Pustaka Ibnu Katsir tersebut, Dr. Ath Thayyar memberikan catatan tajam mengenai perbedaan mendasar antara hukum buatan manusia dengan hukum buatan Tuhan.

Jika produk hukum manusia sering kali terjebak dalam kekurangan, kebengkokan, dan ketidakteraturan, maka hukum Tuhan datang dengan pemahaman yang utuh terhadap unsur kelemahan makhluk-Nya.

Dr. Ath Thayyar menjelaskan bahwa kemudahan dan toleransi Islam meresap ke seluruh nadi syariatnya. Pondasi dasarnya bukanlan pemaksaan, melainkan pemberian keringanan serta peniadaan kesulitan. Hal ini dilakukan untuk meluruskan kebengkokan hidup tanpa harus meremukkan pelakunya. Syariat Islam justru mengungguli syariat samawi terdahulu dalam aspek tidak membebani pemeluknya dengan hal-hal yang berada di luar batas kemampuan mereka.

Landasan utama dari prinsip ini merujuk pada dalil peniadaan kesulitan yang termaktub dalam Al Quran Surah Al Hajj ayat 78:

وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ

Dan Dia sekali kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya