Abdul Mu'ti Beri 3 Pesan Penting untuk Para Profesor di Momen Pengukuhan Guru Besar UMSU
Lusi mahgriefie
Selasa, 17 Februari 2026 - 07:45 WIB
Abdul Muti
Kehadiran profesor tidaklah sekadar pangkat akademi, melainkan profesor harus memiliki paling tidak tiga keteladanan serta harus menjadi cahaya di tengah gulita, dan menjadi pemandu di tengah arah tak menentu.
Demikian disampaikan Abdul Mu'ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat memberi arahan pada pengukuhan Prof. Dr. Muhammad Qorib, MA, sebagai Guru Besar ke-27 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan Sumatera Utara, Senin (16/2/2026).
Tiga keteladanan yang dimaksud yaitu:
Pertama, keteladanan intelektual. Gelar Profesor sebuah capaian yang tidak mudah, karena itu para guru besar harus memiliki keteladanan intelektual sebagai seorang yang memiliki ilmu, mencintai ilmu dan menjunjung tinggi supremasi ilmu.
Kedua, keteladanan sosial. Di Perguruan Tinggi sering disebut dengan berdampak, jadi tidak boleh orang yang berilmu, profesor hanya asyik dengan dirinya. Dia harus menjadi agent of change, menjadi agent of civilization, harus menjadi agen peradaban.
Ketiga, keteladanan moral, harus menjadi agen moral spiritual. Inilah arti penting seorang guru besar, digugu dan ditiru.
"Guru besar itu diatasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar," kata Mu'ti.
Demikian disampaikan Abdul Mu'ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat memberi arahan pada pengukuhan Prof. Dr. Muhammad Qorib, MA, sebagai Guru Besar ke-27 di Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan Sumatera Utara, Senin (16/2/2026).
Tiga keteladanan yang dimaksud yaitu:
Pertama, keteladanan intelektual. Gelar Profesor sebuah capaian yang tidak mudah, karena itu para guru besar harus memiliki keteladanan intelektual sebagai seorang yang memiliki ilmu, mencintai ilmu dan menjunjung tinggi supremasi ilmu.
Kedua, keteladanan sosial. Di Perguruan Tinggi sering disebut dengan berdampak, jadi tidak boleh orang yang berilmu, profesor hanya asyik dengan dirinya. Dia harus menjadi agent of change, menjadi agent of civilization, harus menjadi agen peradaban.
Ketiga, keteladanan moral, harus menjadi agen moral spiritual. Inilah arti penting seorang guru besar, digugu dan ditiru.
"Guru besar itu diatasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar," kata Mu'ti.