LANGIT7.ID-, Medan - Kehadiran profesor tidaklah sekadar pangkat akademi, melainkan profesor harus memiliki paling tidak tiga keteladanan serta harus menjadi cahaya di tengah gulita, dan menjadi pemandu di tengah arah tak menentu.
Demikian disampaikan
Abdul Mu'ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah saat memberi arahan pada pengukuhan Prof. Dr. Muhammad Qorib, MA, sebagai Guru Besar ke-27 di
Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara, Medan Sumatera Utara, Senin (16/2/2026).
Tiga keteladanan yang dimaksud yaitu:Pertama, keteladanan intelektual. Gelar Profesor sebuah capaian yang tidak mudah, karena itu para guru besar harus memiliki keteladanan intelektual sebagai seorang yang memiliki ilmu, mencintai ilmu dan menjunjung tinggi supremasi ilmu.
Kedua, keteladanan sosial. Di Perguruan Tinggi sering disebut dengan berdampak, jadi tidak boleh orang yang berilmu, profesor hanya asyik dengan dirinya. Dia harus menjadi agent of change, menjadi agent of civilization, harus menjadi agen peradaban.
Ketiga, keteladanan moral, harus menjadi agen moral spiritual. Inilah arti penting seorang guru besar, digugu dan ditiru.
"Guru besar itu diatasnya guru yang tidak besar, walaupun guru besar tidak selalu gajinya besar," kata Mu'ti.
Terkait dengan keteladanan itu, Mu'ti berharap semua bisa memperkuat paling tidak dua kebenaran yang harus diperjuangkan bersama-sama yaitu kebenaran agama atau kebenaran diniyah yaitu Mu'ti memandang penting karena tantangannya tidak semakin ringan tapi semakin berat.
"Kebenaran agama yang membawa kepada keyakinan bahwa di tengah carut marut, agama menuntun kita dengan wahyu Illahi yang membuat kita yakin senantiasa berada pada jalan yang benar," imbuhnya.
Baca juga: Universitas Nasional Kukuhkan Menteri Kebudayaan Fadli Zon Sebagai Profesor Kehormatan Bidang BudayaKemudian, kebenaran aqliyah atau kebenaran ilmiyah. Dengan kekuatan ilmu memandu membantu masyarakat untuk maju. Inilah pentingnya para pendiri bangsa meletakkan dasar tujuan negara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
"Saya yakin dengan tiga keteladanan dan dua kebenaran perjuangan itu kita semuanya semakin optimistis bahwa Indonesia ini akan semakin maju Indonesia akan semakin hebat ketika pendidikan Indonesia juga pendidikan maju dan berkualitas khususnya pendidikan dasar dan pendidikan menengah," Mu'ti optimistis.
Ia juga menggambarkan bagaimana ilmuwan itu semakin tersaingi oleh berbagai teknologi. Orang ingin mencari fatwa agama tidak selalu datang kepada para ulama atau para pendeta, tapi kepada "professor" google. Terkadang orang mencari fatwa di sana tidak untuk mencari kebenaran tapi mencari pembenaran, mengikutinya tanpa ada yang memandunya.
"Kebenaran tidak lagi ditentukan oleh ilmu, tidak lagi ditentukan oleh hukum, tapi ditentukan oleh popularitas dan viralitas, yang paling banyak mendukung itulah yang dianggap sebagai kebenaran. Padahal yang viral di media sosial itu bukan seringkali bukan aspirasi sesungguhnya, melainkan aspirasi yang digerakkan oleh robot," jelas Mu'ti.
Bahkan di era digital saat ini makin sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang palsu. Mu'ti menambahkan bagaimana AI mempengaruhi perilaku manusia, dia berbicara mengenai kebenaran yang semakin diputar balikan dan dunia yang semakin tidak menentu karena orang tidak bisa lagi membedakan mana yang benar dan mana yang salah.
Baca juga: Harus Jaga Marwah, Kampus Muhammadiyah Jangan Asal Beri Gelar Profesor KehormatanDi era kecemasan dan kebimbangan itulah kehadiran cendekiawan kehadiran para tokoh agama, rohaniawan tetap sangat diperlukan. Robot tidak bisa membantu menunjukkan mana yang benar dan mana yang salah. AI tidak bisa membantu membedakan mana benar dan salah. AI bisa menjelaskan, tetapi tidak bisa mendeteksi kebenaran informasi.
Mengutip pesan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir sebelumnya, yang menyebut Guru Besar sebuah capaian perjuangan akademik tertinggi insan muslim dan kader Muhammadiyah, sebagai sosok Ulil Albab, akademikus yang bukan hanya berpikir di permukaan tetapi mampu menyingkap di bawah permukaan.
(lsi)