MUI Minta Masyarakat Tidak Terpancing Emosi Terkait WNA Protes Suara Tadarusan
Lusi mahgriefie
Selasa, 24 Februari 2026 - 08:01 WIB
MUI Minta Masyarakat Tidak Terpancing Emosi Terkait WNA Protes Suara Tadarusan
Riuh soal seorang perempuan warga negara asing (WNA) yang ngamuk karena merasa terganggu suara tadarusan pada malam pertama Ramadhan di Dusun Gili Trawangan, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Terkait hal ini, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta masyarakat tidak terpancing emosi.
"Semua pihak harus menahan diri (imsak) terutama orang yang sedang puasa. Dampaknya juga kepada lingkungan sebaiknya menahan diri jangan emosi atau mengamuk, karena bisa disampaikan dengan cara arif dan bijaksana," kata Amirsyah kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Amirsyah mengingatkan untuk tetap menjaga suasana Ramadhan tetap kondusif. "Masyarakat yang menjalankan tadarus juga perlu menjaga kekhusyukan dan ketertiban agar tercipta rasa aman dan penuh persahabatan," imbuhnya.
Amirsyah juga mengingatkan pentingnya toleransi di daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi turis mancanegara. Ia berharap para tamu asing dapat memahami adat dan kearifan lokal setempat.
Baca juga: Buntut WNA Ngamuk Masuk Musala karena Suara Tadarusan, Kemenag Ingatkan Aturan Pengeras Suara
Respons serupa disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Rahmat Hidayat. Ia mengajak semua pihak menempatkan syiar Islam secara proporsional-tetap semarak, namun tidak mengusik ketenteraman bersama.
Ia mengatakan bahwa tadarus merupakan tradisi mulia yang mengakar kuat di tengah umat Islam, terlebih pada bulan Ramadan.
"Semua pihak harus menahan diri (imsak) terutama orang yang sedang puasa. Dampaknya juga kepada lingkungan sebaiknya menahan diri jangan emosi atau mengamuk, karena bisa disampaikan dengan cara arif dan bijaksana," kata Amirsyah kepada wartawan, beberapa waktu lalu.
Amirsyah mengingatkan untuk tetap menjaga suasana Ramadhan tetap kondusif. "Masyarakat yang menjalankan tadarus juga perlu menjaga kekhusyukan dan ketertiban agar tercipta rasa aman dan penuh persahabatan," imbuhnya.
Amirsyah juga mengingatkan pentingnya toleransi di daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi turis mancanegara. Ia berharap para tamu asing dapat memahami adat dan kearifan lokal setempat.
Baca juga: Buntut WNA Ngamuk Masuk Musala karena Suara Tadarusan, Kemenag Ingatkan Aturan Pengeras Suara
Respons serupa disampaikan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Masjid Indonesia (DMI), Rahmat Hidayat. Ia mengajak semua pihak menempatkan syiar Islam secara proporsional-tetap semarak, namun tidak mengusik ketenteraman bersama.
Ia mengatakan bahwa tadarus merupakan tradisi mulia yang mengakar kuat di tengah umat Islam, terlebih pada bulan Ramadan.