Sengketa Umur Nabi Adam dan Daud: Riwayat Awal Sifat Lupa Manusia
Miftah yusufpati
Kamis, 02 April 2026 - 18:07 WIB
Dua kisah ini memberikan sudut pandang berbeda mengenai cara manusia memandang garis finis kehidupan. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Kematian adalah sebuah kepastian yang sering kali datang tanpa mengetuk pintu. Namun, dalam lembaran tarikh yang diwariskan melalui lisan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam, maut pernah hadir dalam rupa yang sangat dialogis, bahkan konfrontatif. Di sana ada Nabi Adam yang menawar waktu dan Nabi Musa yang memberikan perlawanan fisik. Kisah-kisah ini bukan sekadar dongeng pengantar tidur, melainkan sebuah narasi teologis tentang hakikat manusia: tempatnya alpa dan kerasnya kemauan.
Mari kita tengok fragmen pertama di awal penciptaan. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dikisahkan bagaimana Allah mengusap punggung Adam. Dari sana, seluruh calon keturunan manusia hingga kiamat diperlihatkan. Adam terpesona pada satu sosok yang matanya bersinar terang. Itulah Daud. Namun, Adam terperanjat saat mengetahui umur Daud hanya dijatah enam puluh tahun.
Dengan kedermawanan seorang ayah, Adam meminta Allah mengurangi umurnya sendiri sebanyak empat puluh tahun untuk diberikan kepada Daud. Kesepakatan itu tercatat di alam malakut. Namun, ribuan tahun kemudian, saat Malaikat Maut datang mengetuk pintu hidup Adam, sang bapak manusia itu bergeming. Ia mendebat sang pencabut nyawa. "Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun lagi?" tanyanya.
Malaikat Maut mengingatkan tentang hibah umur untuk Daud. Namun, Adam tetap mengingkarinya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam naskah yang disunting Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari menjelaskan fenomena ini dengan lugas: Adam mengingkari janjinya, maka anak keturunannya pun sama suka ingkar. Adam lupa, maka anak keturunannya pun meniru.
Ini adalah interpretasi yang mendalam tentang asal-usul sifat lupa dan ingkar pada manusia. Dalam pandangan ulama, insiden ini menunjukkan bahwa secara fitrah, manusia memiliki kecintaan terhadap hidup dan terkadang terjebak dalam ruang lupa terhadap komitmen yang pernah dibuatnya sendiri.
Fragmen kedua lebih dramatis. Kali ini lakonnya adalah Musa Alaihissalam. Jika Adam memilih jalan debat, Musa memilih aksi fisik. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, dikisahkan Malaikat Maut mendatangi Musa dan berkata, Penuhi panggilan Rabbmu. Musa, yang dikenal memiliki watak keras dan tegas, justru melayangkan pukulan telak hingga mata sang malaikat terlepas.
Malaikat itu kembali kepada Allah dan mengadu, Engkau telah mengutus hamba kepada seseorang yang belum ingin meninggal. Kejadian ini sering disalahpahami oleh kaum rasionalis yang meragukan kesahihan hadis tersebut. Namun, dalam literatur IslamHouse yang merujuk pada karya Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini, dijelaskan bahwa Musa melakukan itu karena malaikat datang dalam wujud manusia biasa yang asing, bukan dalam rupa aslinya. Musa melindungi dirinya dari orang asing yang masuk tanpa izin dan bicara soal kematian.
Mari kita tengok fragmen pertama di awal penciptaan. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam at-Tirmidzi dan al-Hakim, dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dikisahkan bagaimana Allah mengusap punggung Adam. Dari sana, seluruh calon keturunan manusia hingga kiamat diperlihatkan. Adam terpesona pada satu sosok yang matanya bersinar terang. Itulah Daud. Namun, Adam terperanjat saat mengetahui umur Daud hanya dijatah enam puluh tahun.
Dengan kedermawanan seorang ayah, Adam meminta Allah mengurangi umurnya sendiri sebanyak empat puluh tahun untuk diberikan kepada Daud. Kesepakatan itu tercatat di alam malakut. Namun, ribuan tahun kemudian, saat Malaikat Maut datang mengetuk pintu hidup Adam, sang bapak manusia itu bergeming. Ia mendebat sang pencabut nyawa. "Bukankah umurku masih tersisa empat puluh tahun lagi?" tanyanya.
Malaikat Maut mengingatkan tentang hibah umur untuk Daud. Namun, Adam tetap mengingkarinya. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dalam naskah yang disunting Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini al-Atsari menjelaskan fenomena ini dengan lugas: Adam mengingkari janjinya, maka anak keturunannya pun sama suka ingkar. Adam lupa, maka anak keturunannya pun meniru.
Ini adalah interpretasi yang mendalam tentang asal-usul sifat lupa dan ingkar pada manusia. Dalam pandangan ulama, insiden ini menunjukkan bahwa secara fitrah, manusia memiliki kecintaan terhadap hidup dan terkadang terjebak dalam ruang lupa terhadap komitmen yang pernah dibuatnya sendiri.
Fragmen kedua lebih dramatis. Kali ini lakonnya adalah Musa Alaihissalam. Jika Adam memilih jalan debat, Musa memilih aksi fisik. Dalam riwayat Bukhari dan Muslim, dikisahkan Malaikat Maut mendatangi Musa dan berkata, Penuhi panggilan Rabbmu. Musa, yang dikenal memiliki watak keras dan tegas, justru melayangkan pukulan telak hingga mata sang malaikat terlepas.
Malaikat itu kembali kepada Allah dan mengadu, Engkau telah mengutus hamba kepada seseorang yang belum ingin meninggal. Kejadian ini sering disalahpahami oleh kaum rasionalis yang meragukan kesahihan hadis tersebut. Namun, dalam literatur IslamHouse yang merujuk pada karya Syaikh Abu Ishaq al-Huwaini, dijelaskan bahwa Musa melakukan itu karena malaikat datang dalam wujud manusia biasa yang asing, bukan dalam rupa aslinya. Musa melindungi dirinya dari orang asing yang masuk tanpa izin dan bicara soal kematian.