home masjid

Jejak Akhir Isa bagi Bani Israil: Peran Nabi Isa Sebagai Rasul Terakhir Kaum Yahudi

Senin, 13 April 2026 - 16:00 WIB
Nabi Isa hadir sebagai silsilah terakhir nabi bagi kaum Bani Israil di tengah dekadensi moral dan materialisme yang akut. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Sejarah Bani Israil adalah rentetan panjang tentang kerasnya hati dan pembangkangan terhadap wahyu. Di titik nadir perjalanan bangsa tersebut, muncullah sosok Isa bin Maryam sebagai nabi sekaligus rasul terakhir yang diutus khusus untuk mereka. Kehadirannya bukan sekadar pelanjut tradisi kenabian, melainkan sebuah intervensiSang Pencipta yang dramatis untuk mengembalikan roh agama yang telah membeku di tangan kaum yang terobsesi pada materi.

Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria dalam bukunya, Syirik pada Zaman Dahulu dan Sekarang, membedah secara mendalam bagaimana Al-Quran memposisikan Isa sebagai kalimat Allah yang ditiupkan kepada Maryam. Penulis menekankan bahwa kedudukan Isa bagi Bani Israil sejajar dengan posisi Nabi Muhammad bagi seluruh umat manusia: seorang penutup risalah (khatamul anbiya) bagi kaumnya. Dalam literatur tersebut, Isa digambarkan sebagai sosok yang lahir dari silsilah keluarga terhormat, yakni keluarga Imran, yang disebut Al-Quran sebagai keluarga pilihan di atas segala umat pada masanya.

Kehadiran Isa merupakan puncak dari periode panjang agama Israiliyah. Ia muncul ketika masyarakat Bani Israil telah kehilangan esensi ibadah dan terjerembab dalam praktik ekonomi yang menjijikkan. Simbolisasi kemerosotan moral ini terekam jelas dalam catatan sejarah yang merujuk pada Surah an-Nisa ayat 160-161. Di sana digambarkan bagaimana praktik riba yang dilarang justru merajalela, dan harta sesama dimakan dengan jalan batin yang batil.

Interpretasi atas kondisi sosial kala itu menunjukkan bahwa Isa diutus bukan hanya untuk membawa kabar gembira, tetapi juga sebagai peringatan keras atas kezaliman yang dilakukan orang-orang Yahudi. Mereka disebut banyak menghalangi manusia dari jalan Allah dan melanggar perjanjian suci (mitsaq). Bahkan, saking kerasnya hati mereka, Al-Quran menyebut mereka telah membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar dan dengan sombong mengklaim bahwa hati mereka telah tertutup.

Buku tersebut menjelaskan bahwa Allah menjadikan Isa dan ibunya sebagai tanda (ayat) kebesaran-Nya. Kelahiran Isa tanpa perantara ayah merupakan pukulan telak bagi nalar materialisme Bani Israil yang hanya percaya pada hukum sebab-akibat fisik. Kelahiran ini menuntut mereka untuk kembali pada keimanan yang murni terhadap kemahakuasaan Allah. Isa hadir untuk mencairkan kebekuan hukum yang telah dimanipulasi oleh para pemuka agama mereka, sekaligus menjadi penutup tirai bagi nubuwat yang ditujukan khusus kepada keturunan Yakub tersebut.

Secara teologis, Isa adalah nabi terakhir sebelum masa vakum (fatrah) yang panjang, yang kemudian disusul oleh kelahiran Nabi Muhammad. Ia adalah jembatan sekaligus penutup bagi fase agama nasionalistik Israiliyah menuju agama universalitas Islam. Sebagaimana dikutip dari sumber Syaikh Abu Bakar Muhammad Zakaria, Isa merupakan hamba Allah dan rasul-Nya yang membawa misi terakhir di tanah Kanaan untuk memperbaiki moralitas yang telah runtuh akibat syahwat duniawi.

Narasi Al-Quran tentang Isa bin Maryam memberikan penegasan bahwa kedudukan beliau sangat mulia, namun tetap dalam koridor kemanusiaan sebagai utusan. Ia adalah saksi atas pembangkangan kaumnya dan pengingat bahwa hukum Tuhan tidak dapat dipermainkan dengan kecerdikan retorika semata. Sebagai silsilah terakhir, misi Isa adalah babak penutup bagi sejarah panjang kenabian di kalangan Bani Israil, sebelum tongkat estafet risalah berpindah ke tanah Arab untuk seluruh alam.
(mif)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya