Menteri Kebudayaan Tinjau Candi Sewu dan Keraton Ratu Boko, Tekankan Percepatan Restorasi dan Penguatan Pariwisata Berbasis Budaya
Tim langit 7
Sabtu, 18 April 2026 - 08:25 WIB
Menteri Kebudayaan Tinjau Candi Sewu dan Keraton Ratu Boko, Tekankan Percepatan Restorasi dan Penguatan Pariwisata Berbasis Budaya
LANGIT7.ID-Yogyakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, lakukan kunjungan kerja di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta dengan mengunjungi Kompleks Candi Sewu dan Keraton Ratu Boko. Dalam kunjungan tersebut, Menteri Kebudayaan menekankan pentingnya percepatan restorasi bangunan candi.
Keberadaan kompleks Candi Sewu sejak masa lalu tercatat dalam Prasasti Manjusrigrha yang berangka tahun 792 M. Kompleks candi ini terdiri atas satu candi induk, 8 candi apit, dan 240 candi perwara. Menteri Kebudayaan menyebutkan bahwa candi Sewu memiliki potensi besar dan perlu percepatan proses restorasi yang melibatkan berbagai pihak. “Strategi diperlukan secara proaktif mencari dukungan dari berbagai pihak, yakni pemerintah pusat, daerah, dan swasta, untuk mendanai pemugaran lebih lanjut,” jelas Menteri Kebudayaan dalam keterangan resmi, Sabtu (18/4/2026).
Menurut Menbud Fadli, komitmen ini diambil karena restorasi tidak hanya berkaitan dengan pelestarian, tetapi juga merupakan investasi strategis untuk meningkatkan pariwisata budaya, sejarah, dan religi. Upaya tersebut diharapkan memberikan dampak ekonomi serta menjadikan kompleks Candi Sewu lebih utuh dalam beberapa tahun ke depan.
Melanjutkan kunjungan kerjanya, Menbud turut mengunjungi Keraton Ratu Boko yang merupakan aset cagar budaya nasional seluas ±16 hektar di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini merupakan salah satu aset Kementerian Kebudayaan dan menegaskan posisinya sebagai simpul warisan sekaligus pariwisata.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan menjelaskan bahwa daya tarik Keraton Ratu Boko mencakup arsitektur gerbang, petirtaan, pendopo–pringgitan, serta kombinasi otentik antara struktur Hindu–Buddha. Berdasarkan prasasti yang ditemukan, situs ini dibangun pada abad ke-8 Masehi, dengan lanskap yang masih sangat asli.
"Kita berharap semakin banyak masyarakat yang berkunjung ke Keraton Ratu Boko ini. Karena di sini kita bisa menikmati satu perjalanan semacam 'time travel' ke masa lalu dengan peninggalan-peninggalan nenek moyang kita yang luar biasa," ucap Menteri Fadli.
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan dalam kunjungan kerja ini yakni Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Tengah, Nahar Cahyandaru; dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah DI Yogyakarta, Riris Purbasari.
Keberadaan kompleks Candi Sewu sejak masa lalu tercatat dalam Prasasti Manjusrigrha yang berangka tahun 792 M. Kompleks candi ini terdiri atas satu candi induk, 8 candi apit, dan 240 candi perwara. Menteri Kebudayaan menyebutkan bahwa candi Sewu memiliki potensi besar dan perlu percepatan proses restorasi yang melibatkan berbagai pihak. “Strategi diperlukan secara proaktif mencari dukungan dari berbagai pihak, yakni pemerintah pusat, daerah, dan swasta, untuk mendanai pemugaran lebih lanjut,” jelas Menteri Kebudayaan dalam keterangan resmi, Sabtu (18/4/2026).
Menurut Menbud Fadli, komitmen ini diambil karena restorasi tidak hanya berkaitan dengan pelestarian, tetapi juga merupakan investasi strategis untuk meningkatkan pariwisata budaya, sejarah, dan religi. Upaya tersebut diharapkan memberikan dampak ekonomi serta menjadikan kompleks Candi Sewu lebih utuh dalam beberapa tahun ke depan.
Melanjutkan kunjungan kerjanya, Menbud turut mengunjungi Keraton Ratu Boko yang merupakan aset cagar budaya nasional seluas ±16 hektar di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Situs ini merupakan salah satu aset Kementerian Kebudayaan dan menegaskan posisinya sebagai simpul warisan sekaligus pariwisata.
Pada kesempatan tersebut, Menteri Kebudayaan menjelaskan bahwa daya tarik Keraton Ratu Boko mencakup arsitektur gerbang, petirtaan, pendopo–pringgitan, serta kombinasi otentik antara struktur Hindu–Buddha. Berdasarkan prasasti yang ditemukan, situs ini dibangun pada abad ke-8 Masehi, dengan lanskap yang masih sangat asli.
"Kita berharap semakin banyak masyarakat yang berkunjung ke Keraton Ratu Boko ini. Karena di sini kita bisa menikmati satu perjalanan semacam 'time travel' ke masa lalu dengan peninggalan-peninggalan nenek moyang kita yang luar biasa," ucap Menteri Fadli.
Turut mendampingi Menteri Kebudayaan dalam kunjungan kerja ini yakni Staf Khusus Menteri Bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, Basuki Teguh Yuwono; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayuda; Kepala Museum dan Cagar Budaya, Indira Estiyanti Nurjadin; Direktur Warisan Budaya, Agus Widiatmoko; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Tengah, Nahar Cahyandaru; dan Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah DI Yogyakarta, Riris Purbasari.