Mengungkap Alasan Pesantren Menyeleksi Calon Santrinya
Muhajirin
Senin, 18 Oktober 2021 - 18:18 WIB
Pengumuman hasil ujian masuk Pondok Modern Darussalam Gontor (foto: gontor.ac.id)
Masyarakat kadang salah memaknai ujian tes masuk ke sebuah pesantren. Mereka menganggap pesantren mesti menerima semua calon santri dan modal masuk pesantren hanya harus memiliki kemauan saja.
Ada beberapa pernyataan-pernyataan yang sering muncul sebagai pembenaran hal tersebut. Misalnya, pesantren tempat belajar, tidak fair jika hanya menerima yang pintar saja, dan meninggalkan calon santri yang dianggap belum mampu.
Namun pernyataan itu tidak serta-merta benar. Setiap institusi pendidikan pasti memiliki keterbatasan. Entah keterbatasan dari segi gedung, ruang kelas, asrama, atau pun guru. Tentu keterbatasan itu melahirkan kebijakan-kebijakan dari para pengelola pondok pesantren.
Baca Juga:Mengenal Darus Sunnah, Pesantren Terbaik untuk Belajar Ilmu Hadits
Salah seorang content creator alumni pesantren, Bayu Cahyono, mengibaratkan pesantren seperti kapal yang siap berlayar mengarungi lautan. Kapal itu hanya memiliki kapasitas 100 orang, namun yang mendaftar untuk ikut mencapai 1000 orang.
Tentu ribuan orang yang mendaftar itu harus diseleksi. Sebab hanya 100 orang yang diperbolehkan ikut serta dalam pelayaran tersebut. Jika dipaksakan semua orang ikut, hanya bermodal kemauan saja, maka kapal itu akan tenggelam. Bukan hanya satu dua orang saja yang celaka, namun semua orang akan mengalami nasib serupa.
“Itu mengapa ada seleksi, bukan memilih yang pintar dan meninggalkan yang bodoh. Tetapi memilih orang-orang yang benar-benar sudah siap dengan aturan, dengan kurikulum, dengan pelajaran yang ada di pesantren,” kata Bayu melalui kanal youtube Ubay DC, dikutip Senin (18/10/2021).
Ada beberapa pernyataan-pernyataan yang sering muncul sebagai pembenaran hal tersebut. Misalnya, pesantren tempat belajar, tidak fair jika hanya menerima yang pintar saja, dan meninggalkan calon santri yang dianggap belum mampu.
Namun pernyataan itu tidak serta-merta benar. Setiap institusi pendidikan pasti memiliki keterbatasan. Entah keterbatasan dari segi gedung, ruang kelas, asrama, atau pun guru. Tentu keterbatasan itu melahirkan kebijakan-kebijakan dari para pengelola pondok pesantren.
Baca Juga:Mengenal Darus Sunnah, Pesantren Terbaik untuk Belajar Ilmu Hadits
Salah seorang content creator alumni pesantren, Bayu Cahyono, mengibaratkan pesantren seperti kapal yang siap berlayar mengarungi lautan. Kapal itu hanya memiliki kapasitas 100 orang, namun yang mendaftar untuk ikut mencapai 1000 orang.
Tentu ribuan orang yang mendaftar itu harus diseleksi. Sebab hanya 100 orang yang diperbolehkan ikut serta dalam pelayaran tersebut. Jika dipaksakan semua orang ikut, hanya bermodal kemauan saja, maka kapal itu akan tenggelam. Bukan hanya satu dua orang saja yang celaka, namun semua orang akan mengalami nasib serupa.
“Itu mengapa ada seleksi, bukan memilih yang pintar dan meninggalkan yang bodoh. Tetapi memilih orang-orang yang benar-benar sudah siap dengan aturan, dengan kurikulum, dengan pelajaran yang ada di pesantren,” kata Bayu melalui kanal youtube Ubay DC, dikutip Senin (18/10/2021).