Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 04 Juni 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Mengenal Darus Sunnah, Pesantren Terbaik untuk Belajar Ilmu Hadits

Muhajirin Senin, 18 Oktober 2021 - 15:01 WIB
Mengenal Darus Sunnah, Pesantren Terbaik untuk Belajar Ilmu Hadits
Para wisudawan dan wisadawati lulusan Pondok Pesantren Darussunnah (Dok Darusunnah)
LANGIT7.ID, Jakarta - Pesantren yang didirikan khusus untuk menghafal Al-Qur’an telah banyak berdiri dan berkembang pesat di Indonesia. Namun berbeda dengan pesantren yang khusus mengkaji hadits. Tak banyak pesantren di Indonesia yang fokus pada kajian ilmu hadits. Sedikit di antara pesantren yang fokus mengkaji ilmu hadits serta mencetak ulama ahli hadits adalah Pondok Pesantren Darus Sunnah.

Pesantren yang terletak di Pisangan Barat, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten itu dirintis oleh almarhum Prof. Dr. KH. Ali Mustafa Ya’qub, salah seorang ulama yang dikenal dengan julukan ‘pendekar hadits’. Maka tak heran jika Darus Sunnah disebut sebagai pelopor pesantren hadits di Indonesia.

Baca Juga: Ma’had Imam Bukhari Bandung Berdiri Untuk Lahirkan Ahli Hadits di Indonesia

Pesantren yang berdiri pada 1997 itu awalnya bernama Pesantren Luhur Ilmu Hadis Darus Sunnah (Ma’had Darus Sunnah al-Dauli li Ulum al-Hadith). Namun pada 2011, nama pesantren berubah menjadi Darus Sunnah International Institute for Hadith Science. Pada 2010, pesantren ini sudah membuka cabang di Pahang, Malaysia.

Setelah melakukan perjalanan intelektual ke berbagai lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, KH Ali Mustafa Ya’qub memutuskan mendirikan pesantren. Terlebih dia dikenal intens dengan dunia pesantren.

Beliau pernah menjadi pengasuh Pesantren al-Hamidiyah Depok (1995-1997) dan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STIDA) al-Hamidiyah Jakarta (1991-1997). Ia juga menjadi anggota Komisi Fatwa MUI sejak 1987.

Fokus KH Ali Mustafa sebagai akademisi sekaligus ahli hadits sangat jelas. Salah satu yang menjadi perhatian beliau adalah memberantas penyebaran hadits-hadits palsu yang beredar di tengah masyarakat. Itu pula yang menjadi salah satu alasan beliau mendirikan Darus Sunnah.

Kitab-kitab yang diajarkan dan dikaji di pesantren merupakan kitab-kitab hadits dan ilmu hadits. Di antaranya kitab hadits yang enam (Al-Kutub As-Sittah). Sementara untuk ilmu hadits meliputi musthalah hadits dan takhrij hadits.

Kemudian metode memahami hadits antara lain kitab Tadrib al-Rawi karya al-Suyuti, Taisir Mustalah al-Hadits dan Usul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid karya Mahmud al Tahhan, Takwil Mukhtalaf al-Hadits karya ibnu al-Qutaibah, dan beberapa kitab lain.

Baca Juga: KH Ahmad Lutfi Fathullah, Ulama Betawi yang Berjasa Mendigitalisasi Hadits

Pesantren ini tidak menerima santri sampai ribuan. Pendaftar yang diterima dibatasi. Tiap tahun, Darus Sunnah hanya menerima sekitar 20 santri putri an 30 santri putra dengan tes seleksi masuk yang sangat ketat. Itu yang menjadi salah satu kunci pembelajaran berjalan optimal.

Diawali dari Jenjang Perguruan Tinggi, Menyusul Berdiri Madrasah


Darus Sunnah awalnya hanya menerima santri yang telah lulus Sekolah Menengah Atas (SMA). Sebab belajar ilmu hadits membutuhkan kesanggupan memahami bahasa Arab dan juga kepandaian di bidang ilmu-ilmu agama lain. Meski begitu, tentu belajar hadits masih berat dilakukan oleh mereka yang masih duduk di bangku sekolah dasar hingga SMA.

Dalam tahap seleksi, Darus Sunnah menerapkan syarat yang ketat. Ada dua tahapan yang harus dilewati. Pertama, tahap tes tulis yang meliputi tes profisiensi Bahasa Arab (TOAFL), pengetahuan dasar ilmu hadits, ilmu akidah, dan wawasan sejarah serta pengetahuan Islam.

Setelah lulus tes tulis, pendaftar harus melewati tes lisan meliputi Qira’at al-Kutub (pembacaan kitab-kitab berbahasa Arab), Fahmu al-Maqru’ (memahami isi teks Arab sekaligus mampu menerangkannya), nahwu dan sharaf, wawasan ilmu hadits, penguasaan bahasa Arab-Inggris dan psikotes.

Meski demikian, bukan berarti bahwa para pendaftar yang tidak lulus tes tidak diperkenankan belajar di pesantren. Oleh karena itu, mahasantri Darus Sunnah ini dikategorikan menjadi dua, yaitu muntadzim dan muntasib. Mahasantri muntadzim adalah mahasantri yang berhak tinggal di asrama. Mahasantri muntadzim yakni mereka yang lulus kedua tes di atas.

Sementara mahasantri muntasib adalah mahasantri yang tinggal di luar asrama. Namun, kedua kelompok mahasantri tetap mendapatkan pelajaran yang sama. Darus Sunnah memberikan kelonggaran bagi mahasantri yang tercatat mahasiswa di berbagai perguruan tinggi, misalnya bisa ikut organisasi kampus, dengan syarat tidak melanggar aturan-aturan pesantren dan tidak mengganggu dirasah.

Dalam proses belajar-mengajar, Darus Sunnah mengkombinasikan sistem pesantren dan sistem perkuliahan di perguruan tinggi, yakni dzikir dan fikir. Metode pesantren yakni bandongan (muhadharah), guru menerangkan dan santri mendengarkan dan memahami. Darus Sunnah juga menerapkan sistem sorogan, santri membaca kitab sementara kiai menyimak dan mengoreksi.

Setelah berjalan selama 17 (tujuh belas tahun), Pesantren yang semula hanya khusus untuk mahasiswa itu, pada tahun 2014 resmi membuka program baru. Tujuannya adalah mengader ulama sejak usia dini. Dari tujuan tersebut, Pesantren Darus-Sunnah menginginkan generasi ulama tidak boleh putus. Oleh karena itulah, Pesantren Darus-Sunnah merasa perlu untuk mendirikan lembaga pendidikan keagamaan enam tahun setingkat Tsanawiyah-Aliyah untuk mempersiapkan generasi-generasi ulama yang terbaik dalam keilmuan dan pengabdiannya.

Dengan kurikulum holistik/syamil yang khas Darus-Sunnah, Pesantren ini telah berhasil menarik perhatian banyak masyarakat. Terbukti sambutan positif itu datang dari berbagai daerah di seantero Nusantara. Dari Sabang (Aceh) hingga Merauke. Para santri pun berdatangan untuk mendaftarkan diri, menimba ilmu di lembaga baru tersebut, Madaris Darus-Sunnah Enam Tahun Setingkat Tsanawiyah-Aliyah Ciputat, Tangerang Selatan Banten.

(jqf)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 04 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:48
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)