LANGIT7.ID - Masyarakat kadang salah memaknai ujian tes masuk ke sebuah pesantren. Mereka menganggap pesantren mesti menerima semua calon santri dan modal masuk pesantren hanya harus memiliki kemauan saja.
Ada beberapa pernyataan-pernyataan yang sering muncul sebagai pembenaran hal tersebut. Misalnya, pesantren tempat belajar, tidak fair jika hanya menerima yang pintar saja, dan meninggalkan calon santri yang dianggap belum mampu.
Namun pernyataan itu tidak serta-merta benar. Setiap institusi pendidikan pasti memiliki keterbatasan. Entah keterbatasan dari segi gedung, ruang kelas, asrama, atau pun guru. Tentu keterbatasan itu melahirkan kebijakan-kebijakan dari para pengelola pondok pesantren.
Baca Juga: Mengenal Darus Sunnah, Pesantren Terbaik untuk Belajar Ilmu Hadits
Salah seorang content creator alumni pesantren, Bayu Cahyono, mengibaratkan pesantren seperti kapal yang siap berlayar mengarungi lautan. Kapal itu hanya memiliki kapasitas 100 orang, namun yang mendaftar untuk ikut mencapai 1000 orang.
Tentu ribuan orang yang mendaftar itu harus diseleksi. Sebab hanya 100 orang yang diperbolehkan ikut serta dalam pelayaran tersebut. Jika dipaksakan semua orang ikut, hanya bermodal kemauan saja, maka kapal itu akan tenggelam. Bukan hanya satu dua orang saja yang celaka, namun semua orang akan mengalami nasib serupa.
“Itu mengapa ada seleksi, bukan memilih yang pintar dan meninggalkan yang bodoh. Tetapi memilih orang-orang yang benar-benar sudah siap dengan aturan, dengan kurikulum, dengan pelajaran yang ada di pesantren,” kata Bayu melalui kanal youtube Ubay DC, dikutip Senin (18/10/2021).
Baca Juga: Manba’ul Ulum Cirebon, Pesantren yang Padukan Metode Pendidikan Salaf dan Modern
Dia mencontohkan Pondok Modern Darussalam Gontor. Setiap calon santri akan dites bacaan Qur’an dan imla’. Ini karena santri sejak kelas satu akan langsung membaca Al-Qur’an dan digembleng pelajaran dengan pengantar bahasa Arab.
“Nah, kalau anak-anak belum bisa baca Qur’an dan imla’ dan dipaksakan untuk diterima, maka kasihan anak itu. Dia akan berat, dia tidak mampu menerima pelajaran yang ada. Justru adanya tes ujian masuk inilah salah satu kebijakan dari pesantren. bukan berarti yang diterima yang pintar saja,” tutur Bayu.
Maka, tes masuk pesantren merupakan kebaikan untuk calon santri juga. Bukan berarti memilih antara yang bodoh dengan yang pintar. “Artinya kurang tepat kalau belajar di pesantren itu, bisa cari pesantren yang lain. Banyak kok pesantren di Indonesia,” ucap Bayu.
(jqf)