LANGIT7.ID, Cirebon - Pondok Pesantren Manbaul Ulum mulai dirintis pada 1987 M. Sejak saat itu, pesantren yang terletak di Cirebon, Jawa Barat bertransformasi menjadi pesantren yang memadukan pendidikan tradisional (salaf) dan modern (khalaf) dengan pendidikan Tarbiyatul Mu’allimin Al-Islamiyah.
Pimpinan Manbaul Ulum, KH Mahfudz Hudlori, mengatakan, pesantren ini memiliki beragam program seperti program bahasa asing, jurnalistik, marching band, dan lainnya. Ia menyebut metode salaf dalam penguasaan kitab lebih menonjol. Sementara sistem khalaf atau modern digunakan dalam penguasaan bahasa dan mengekspresikan diri dalam berbagai kegiatan itu lebih menonjol.
Baca Juga: Menilik Perbedaan Pondok Pesantren Tradisional dan Modern
Santri yang mencapai 800 orang tak hanya mengaji kitab kuning, namun juga berfokus pada hafalan Qur’an. Sedangkan pendidikan salaf berfokus pada pendalaman literatur-literatur keislaman yakni kitab kuning dengan metode salaf.
“Cukup berat untuk mempertahankan santri bisa belajar sampai kelas akhir (niha'i),” kata KH Mahfudz saat berbincang dengan LANGIT7.ID, Kamis (14/10/2021).
Sejarah BerdiriSejarah berdirinya Pondok Pesantren Manba’ul Ulum Cirebon terbagi ke dalam tiga tahap. Tahap pertama sebelum 1970-an. Pesantren yang dirintis oleh KH Ghojali dalam bentuk pengajaran Qur’an yang sangat sederhana. Beliau hanya mengajarkan Al-Qur’an untuk santri kalong sebelum tahun 1970-an.
Tahap kedua pada 1970-1987. KH Mahfudz Suja’i sebagai putra KH Ghojali melanjutkan pengajaran Al-Qur’an dengan santri-santri kalong. Namun pada tahap ini sudah dilengkapi Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) dan SMP Sindang Jawa pada 1983.
Pada ketiga pada 1987 sampai sekarang. Enam bulan sebelum KH Mahfudz wafat, beliau resmi mendirikan Pondok Pesantren dengan nama Tadribut Thalibin Al-Islam pada 20 Juli 1987 bersama dengan Ustadz Drs. Ahmadie Thaha, KH Mahfudz Hudlori, dan KH Jufriyadi Rifa’i.
Kala itu jumlah santri pertama berjumlah 92 orang. Dua tahun setelah itu, sekira 1990-an berganti nama menjadi Pondok Pesantren Al-Khidmah.
“Bersamaan dengan pergantian nama, diadakan kegiatan kelas santri takhassus, yakni Pesantren yang melaksanakan kegiatan santri dengan pola klasikal, dengan kurikulum berafiliasi ke pola Gontor dan al-Amien Prenduan,” kata KH Mahfudz.
Namun pada saat itu, belum ada ruang asrama. Maka, santri dititipkan ke rumah-rumah warga sekitar. Setahun berikutnya, ada masyarakat yang menyumbang untuk membangun dua ruang kamar asrama. Bangunan itu dinamai Baitul Hajjain, karena disumbang oleh Wak Haji Khalil Kadutila dan Wak Haji Kunawi Sindangjawa.
Lima tahun berikutnya, sekira 1995, diinstruksikan agar nama lembaga disesuaikan dengan nama Yayasan. Maka pada saat itu, pesantren berubah menjadi Pondok Pesantren Manbaul Ulum Cirebon hingga saat ini.
Pesantren ini harus beradaptasi selama 13 tahun dengan menerima santri kalong, namun tidak menghasilkan output-output yang maksimal. Maka pada 2000, pihak pesantren resmi membuka program terpadu TMI (Tarbiyatul Mu'allimien Al-Islamiyah, setelah para pengasuh dan pengurus Yayasan mengadakan silaturahmi dan studi banding ke beberapa pondok pesantren di Jawa.
Masa belajar dengan program terpadu TMI ini berlangsung selama 6 tahun untuk lulusan SD/MI dan 3 tahun untuk lulusan SMP/MTs. Para santri kelas 3 akan diikutkan Ujian Nasional (UN) Madrasah Tsanawiyah dan santri kelas 6 diikutkan UN Madrasah Aliyah.
(jqf)