LANGIT7.ID, Jakarta - Dari banyaknya jumlah Pesantren di Indonesia, tidak sedikit para wali santri bingung membedakan antara Pesantren Modern dengan Tradisional. Bahkan, seringkali orangtua menganggap keduanya sama. Padahal, terdapat beberapa perbedaan yang signifikan dari aspek tradisi, sistem pendidikan bahkan kitab yang dipelajari.
Pesantren TradisionalDr. Syarif Hade di
channel youtube-nya menyampaikan pesantren tradisional atau lebih dikenal dengan Pesantren
Salafiyah dalam pembelajarannya menggunakan referensi kitab kuning. Secara umum ia juga dapat dilihat dari keseharian para santri yang menggunakan sarung dalam aktifitasnya. Selain itu, mayoritas Pondok Pesantren tradisional berafiliasi kepada salah satu ormas islam yaitu Nahdlatul Ulama (NU).
Menurut penjelasan Ubay DC di
channel youtube-nya, Pesantren Tradisional merupakan pesantren yang bermula didirikan oleh para Ulama Wali Songo.
Dari segi akademik, Pesantren Tradisional lebih menitikberatkan kepada ketauhidan, ilmu agama, dan membahas tafsir al-Quran maupun hadits. Materi yang dikaji biasanya menggunakan buku berbahasa arab yang ditulis oleh ulama terdahulu atau yang biasa disebut sebagai kitab kuning.
Perbedaan yang lainnya adalah pesantren tradisional memiliki kebiasaan melakukan pengajian yang mana Kiai atau Ulama pesantren tersebut berada didepan dengan membaca kitab kuning, yang kemudian para santri akan mendengarkan dengan membuka kitabnya. Model seperti ini sering disebut dengan metode
sorogan,
bandongan dan
wetonan.
Pesantren tradisional atau
salaf ini hanya fokus kepada penguasaan ilmu alat teoritis bukan praktis. Misalkan Pesantren Tradisional fokus ke ilmu alat yang teoritis seperti
ushul fiqh atau
nahwu sharaf.
Pesantren ModernDr. Syarif Hade di
channel youtube-nya juga menyebut, Pesantren Modern secara umum adalah pesantren yang dibentuk oleh alumni dari Pondok Modern Darussalam Gontor yang merupakan pesantren modern pertama di Indonesia. Dimana, para santri yang lulus, hampir sebagian besar mendiri pesantren yang metode dan kurikulumnya sama seperti Gontor.
Pesantren modern, dalam kurikulumnya menekankan pengajaran bahasa untuk percakapan diantaranya Bahasa Arab dan Inggris. Selain itu, pesantren modern umumnya tidak menggunakan kitab kuning melainkan kitab putih atau kitab terjemahan yang ditulis oleh Ulama-ulama modern. DR Syarif Hade menekankan kedua kitab tersebut baik dan benar disampaikan sebagai referensi untuk mengajar para santri.
Disamping itu, Pesantren modern biasanya juga lebih fokus dalam pembelajaran praktis seperti pelajaran umum, bahasa, kedisiplinan, kepemimpinan. Maka jangan heran, untuk mendapat beasiswa di pesantren modern, biasanya mensyaratkan kepada nilai-nilai pelajaran umum seperti IPA, IPS, Matematika dan Bahasa Indonesia.
Selain Pesantren Modern jejaring alumni Gontor, terdapat pula pesantren modern yang berafiliasi ke berbagai Organisasi Kemasyarakatan Islam seperti Muhammadiyah, Persatuan Islam (PERSIS),
Al Irsyad Al Islamiyah juga Pesantren berbasis Sekolah Islam Terpadu.
Dari perbedaan antara pesantren tradisional dan modern, juga terdapat beberapa persamaan diantaranya sama-sama menerapkan hafalan Quran untuk mencetak para Hafidz Quran.
Antara pesantren tradisional dan pesantren modern keduanya sama baiknya, dan dapat dipilih salah satunya oleh wali santri sesuai kebutuhan tiap santri.
diolah dari berbagai sumber(jqf)