Penguatan Sektor Riil Jadi Perhatian Utama Pengembangan Ekosistem Ekonomi Syariah Nasional
Lusi mahgriefie
Ahad, 24 Mei 2026 - 12:46 WIB
Ketua Harian Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah sekaligus Menteri Koperasi, Ferry Juliantono. Foto: tangkapan layar
Di tengah dorongan menjadikan Indonesia sebagai pusat ekonomi syariah dunia, penguatan sektor riil kini menjadi perhatian utama dalam pengembangan ekosistem ekonomi syariah nasional.
Hal tersebut disampaikan Ketua Harian Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah, Ferry Juliantono, dalam Sharia Economic Leadership Forum (SELF) 2026 bertema "Syariah Economy Beyond Finance: Orkestrasi Kepemimpinan Daerah dan Industri Halal untuk Akselerasi Ekosistem Ekonomi Syariah Indonesia 2025-2029".
Menurut Ferry, arah gerakan ekonomi syariah saat ini tidak lagi hanya berfokus pada sektor keuangan, tetapi juga harus mampu menyentuh sektor riil dan kehidupan masyarakat secara langsung. Pengembangan industri halal, pemberdayaan ekonomi umat, hingga penguatan kolaborasi antara pusat dan daerah dinilai menjadi langkah penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah nasional.
"MES tidak boleh berhenti sebagai forum ide, tapi harus jadi forum aksi sebagai titik temu program, tidak hanya menyangkut MES di Jakarta tapi juga MES di daerah-daerah," ujar Ferry dalam pembukaan SELF 2026, Minggu (24/5/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan ekonomi syariah perlu selaras dengan berbagai agenda pembangunan nasional seperti Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Asta Cita, hingga masterplan keuangan syariah Indonesia. Karena itu, tahun 2026 disebut sebagai momentum akselerasi dan ekspansi yang menuntut langkah lebih konkret, bukan sekadar konsep.
Baca juga:Ekonomi Syariah Riau Tumbuh Pesat, Ekspor Halal Tembus US$10,43 Miliar
Dalam praktiknya, ekonomi syariah juga didorong untuk hadir melalui penguatan koperasi berbasis masyarakat.
Hal tersebut disampaikan Ketua Harian Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah, Ferry Juliantono, dalam Sharia Economic Leadership Forum (SELF) 2026 bertema "Syariah Economy Beyond Finance: Orkestrasi Kepemimpinan Daerah dan Industri Halal untuk Akselerasi Ekosistem Ekonomi Syariah Indonesia 2025-2029".
Menurut Ferry, arah gerakan ekonomi syariah saat ini tidak lagi hanya berfokus pada sektor keuangan, tetapi juga harus mampu menyentuh sektor riil dan kehidupan masyarakat secara langsung. Pengembangan industri halal, pemberdayaan ekonomi umat, hingga penguatan kolaborasi antara pusat dan daerah dinilai menjadi langkah penting untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi syariah nasional.
"MES tidak boleh berhenti sebagai forum ide, tapi harus jadi forum aksi sebagai titik temu program, tidak hanya menyangkut MES di Jakarta tapi juga MES di daerah-daerah," ujar Ferry dalam pembukaan SELF 2026, Minggu (24/5/2026).
Ia menjelaskan, pengembangan ekonomi syariah perlu selaras dengan berbagai agenda pembangunan nasional seperti Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), Asta Cita, hingga masterplan keuangan syariah Indonesia. Karena itu, tahun 2026 disebut sebagai momentum akselerasi dan ekspansi yang menuntut langkah lebih konkret, bukan sekadar konsep.
Baca juga:Ekonomi Syariah Riau Tumbuh Pesat, Ekspor Halal Tembus US$10,43 Miliar
Dalam praktiknya, ekonomi syariah juga didorong untuk hadir melalui penguatan koperasi berbasis masyarakat.