home masjid

Esensi Ibadah Sebagai Sarana Pembebasan Manusia dari Belenggu Sosial

Senin, 08 Juni 2026 - 05:00 WIB
Ritus konstan dalam Islam adalah sebuah metode penjinakan ego agar manusia tidak bertindak sewenang-wenang di muka bumi. Ilustrasi: AI
LANGIT7.ID-Nalar materialisme modern sering kali memandang doktrin agama sebagai rangkaian beban yang membatasi kebebasan individu. Kalkulasi untung rugi secara ekonomi membuat waktu yang dialokasikan untuk bersujud dianggap mengurangi produktivitas harian.

Namun, sosiologi Islam membalik premis tersebut. Ibadah di dalam syariat Islam merupakan tujuan akhir yang paling dicintai dan diridhai-Nya. Komponen teologis inilah yang menjadi alasan mendasar mengapa Allah menciptakan manusia, mengutus para rasul, serta menurunkan kitab-kitab suci-Nya.

Konstruksi hukum Islam menetapkan garis tegas bagi mereka yang merespons panggilan ini. Orang yang konsisten melaksanakannya akan dipuji, sementara mereka yang enggan melaksanakannya secara terbuka dicela. Ketetapan ini merujuk pada maklumat lisan dalam Surah Al-Mumin ayat dua puluh enam atau juga dikenal sebagai Surah Ghafir ayat enam puluh:

وقال ربكم ادعوني أستجب لكم إن الذين يستكبرون عن عبادتي سيدخلون جهنم داخرين

Artinya: Dan Rabb-mu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau beribadah kepada-Ku akan masuk Neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.

Purifikasi Mental

Ibadah di dalam Islam sama sekali tidak disyariatkan untuk mempersempit atau mempersulit ruang gerak manusia. Desain hukum ritual tidak dirancang untuk menjatuhkan pemeluknya di dalam kesulitan fisik maupun mental.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya