home masjid

Melampaui Batas Rasionalisme Instrumental: Integrasi Logika dan Rasa dalam Epistemologi Islam

Senin, 08 Juni 2026 - 16:26 WIB
Menjalankan ritual salat sekadar sebagai gerakan mekanis tanpa melibatkan kesadaran rasional dan spiritual adalah sebuah bentuk kegagalan dalam menangkap esensi syariat. Ilustrasi: Ist
LANGIT7.ID-Arsitektur pemikiran modern bentukan peradaban Barat sekuler menempatkan logika positivistik sebagai instrumen tunggal dalam menguji seluruh realitas eksistensial. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa segala sesuatu yang tidak dapat divalidasi oleh penalaran silogisme atau kalkulasi laboratorium dianggap tidak ada atau tidak memiliki nilai ilmiah.

Dampak sistemik dari dominasi cara pandang ini adalah lahirnya masyarakat yang mengalami pecah kepribadian (split personality). Manusia modern tumbuh menjadi makhluk yang cerdas secara mekanis dan kalkulatif, namun lumpuh secara spiritual serta kehilangan arah pemaknaan hidup.

Islam merespons krisis epistemologis ini dengan menawarkan konsep utuh mengenai integrasi instrumen pengetahuan. Untuk mencapai integritas rohani yang kokoh, manusia tidak cukup hanya bersandar pada kemampuan logika murni semata.

Logika formal memiliki batas jangkauan regulasi yang kaku. Jika dibiarkan bekerja sendiri tanpa bimbingan wahyu, logika murni berpotensi menjebak manusia dalam sikap agnosisisme atau pragmatisme ekonomi yang destruktif.

Di dalam tradisi Islam, logika tidak diposisikan untuk menolak dimensi spiritual, melainkan justru dengan logika itulah manusia harus membukakan jalan bagi hati dan pikirannya agar mampu melakukan penetrasi intelektual sampai ke tingkat yang tertinggi.

Formulasi komprehensif mengenai penundukan rasio di bawah kendali spiritualitas ini dibedah secara analitis dalam buku Sejarah Hidup Muhammad.

Buku teks historiografi standar yang memiliki bobot ilmiah tinggi ini ditulis oleh sejarawan terkemuka asal Mesir, Dr. Muhammad Husain Haekal, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Ali Audah, dan diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Jaya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya