home masjid

Menghapus Takhayul Waktu, Menengok Sejarah Mulia di Bulan Safar

Senin, 20 Juli 2026 - 13:32 WIB
Menghapus Takhayul Waktu, Menengok Sejarah Mulia di Bulan Safar
Bulan Safar merupakan bulan kedua dalam kalender Hijriyah yang jatuh tepat setelah bulan Muharram. Secara etimologi, kata Safar diambil dari akar kata صَفِرَ – يَصْفَرُ – صَفَرًا yang memiliki arti kosong, sepi, atau tidak berpenghuni.

Penamaan ini merujuk pada tradisi masyarakat Arab kuno yang gemar keluar meninggalkan rumah mereka untuk berniaga maupun maju ke medan perang, sehingga rumah-rumah mereka menjadi kosong melompong. Pendapat lain menyebutkan bahwa penamaan ini berkaitan dengan perpindahan musim atau kondisi alam tertentu yang menciptakan suasana lengang.

Namun di samping latar belakang historis tersebut, terdapat mitos yang telanjur mengakar di tengah masyarakat jahiliyah bahwa bulan Safar adalah waktu pembawa sial, petaka, dan bencana. Keyakinan keliru mengenai hari atau bulan pembawa sial ini secara tegas telah dibatalkan oleh Rasulullah.

Melalui sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Imam Muslim, Nabi bersabda, لَا عَدْوَى، وَلَا طِيَرَةَ، وَلَا هَامَةَ، وَلَا صَفَرَ yang menegaskan bahwa tidak ada penyakit yang menular dengan sendirinya tanpa izin Allah, tidak ada kesialan karena tanda-tanda burung, tidak ada burung hantu pemanggil kematian, dan tidak ada kesialan di bulan Safar. Ketetapan ini menjadi benteng akidah bagi umat Islam agar tidak terjerumus ke dalam khurafat dan takhayul yang dapat merusak kemurnian tauhid.

Pendakwah Persatuan Islam, Ustaz Ade Enjang menjelaskan, dalam poin pertama mengenai 'adwa atau perpindahan penyakit, hadis tersebut sebenarnya tidak menolak adanya hukum sebab-akibat dalam penularan penyakit. "Rasulullah sendiri mengingatkan dalam hadis lain agar kita melarikan diri dari orang yang terkena penyakit kusta sebagaimana lari dari kejaran singa lewat sabdanya. Beliau juga melarang pencampuran antara yang sakit dengan yang sehat melalui instruksi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (20/7/2026).

Prinsip dasar yang diajarkan di sini adalah bahwa penyakit dapat menular melalui perantara sebab yang Allah ciptakan, namun ia tidak memiliki kekuatan mandiri di luar kehendak-Nya. Seorang muslim diwajibkan mengambil langkah preventif atau ikhtiar, tetapi hatinya harus tetap berserah diri dan meyakini firman Allah dalam surat At-Taubah ayat lima puluh satu, قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا bahwa tidak akan menimpa kita kecuali apa yang telah Allah tetapkan.

Selanjutnya, Islam juga menghapus konsep thiyarah, yaitu kebiasaan kuno menentukan nasib baik atau buruk berdasarkan arah terbang burung. Rasulullah mengecam keras praktik ini dengan bersabda hingga tiga kali الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ، الطِّيَرَةُ شِرْكٌ yang berarti thiyarah adalah syirik.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya