home masjid

Tantangan Mempertahankan Agama di Tengah Fitnah Akhir Zaman

Jum'at, 31 Juli 2026 - 18:02 WIB
Tantangan Mempertahankan Agama di Tengah Fitnah Akhir Zaman
Mempertahankan akidah dan konsistensi beragama pada masa kini menghadapi tantangan yang makin berat akibat maraknya fitnah syubhat dan syahwat di tengah masyarakat. Fenomena tersebut selaras dengan pencerahan yang disampaikan oleh Dosen IAIPI Bandung, Ustaz Robi Permana, mengenai beratnya menjaga istiqamah di era modern.‎‎Mengutip hadis riwayat at-Tirmidzi (no. 2260), Ustaz Robi menjelaskan peringatan Rasulullah SAW mengenai gambaran kondisi umat Islam di akhir zaman:‎‎عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ»‎‎"Akan datang kepada manusia suatu masa, orang yang tetap sabar memegang agamanya seperti orang yang menggenggam bara api."‎‎Menurut Ustaz Robi, perumpamaan menggenggam bara api mencerminkan betapa beratnya menjaga iman, menjalankan sunnah, serta menjauhi kemaksiatan saat norma agama mulai terpinggirkan. Tekanan sosial, dominasi hawa nafsu, hingga pengucilan terhadap orang-orang saleh menjadi bagian dari ujian yang harus dihadapi dengan kesabaran ekstra.‎‎"Kesabaran yang dimaksud mencakup tiga dimensi utama, yaitu sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menghindari maksiat meski dianggap lumrah oleh lingkungan, serta sabar saat menghadapi celaan maupun intimidasi. Meski demikian, beratnya ujian tersebut diimbangi dengan ganjaran pahala yang amat besar di sisi Allah SWT," ujarnya dalam Kajian Hamalatul Hadis (Kahadis), Jumat (31/7/2026).‎‎Untuk menguatkan keutamaan orang-orang yang tetap istiqamah, Ustaz Robi Permana juga menyitir hadis riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah terkait besarnya ganjaran pada masa penuh ujian:‎‎عَنْ أَبِي ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ «فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامَ الصَّبْرِ، الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ: «بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ»‎‎"Sesungguhnya di belakang kalian akan datang hari-hari penuh kesabaran. Bersabar pada masa itu seperti menggenggam bara api. Orang yang beramal pada masa itu memperoleh pahala lima puluh orang dari kalian." Para sahabat bertanya, "Lima puluh dari kami atau dari mereka?" Beliau menjawab, "Bahkan lima puluh dari kalian."‎‎Selain pahala yang dilipatgandakan, mereka yang teguh memegang kebenaran di tengah kerusakan zaman juga digolongkan sebagai sosok yang asing (ghuraba'). Sebagaimana hadis riwayat Muslim berikut:‎‎«بَدَأَ الإِسْلَامُ غَرِيبًا، وَسَيَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ» قِيلَ: مَنْ هُمُ الْغُرَبَاءُ؟ قَالَ: «الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ»‎‎"Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali asing sebagaimana permulaannya. Maka beruntunglah orang-orang yang asing." Ditanyakan: "Siapakah mereka?" Beliau menjawab: "Mereka adalah orang-orang yang memperbaiki ketika manusia telah rusak."‎‎Lebih lanjut, Ustaz Robi Permana menekankan pentingnya memegang teguh petunjuk Nabi SAW dan para sahabat sebagai benteng utama dari kerancuan pemikiran. Ketaatan pada ajaran agama harus digenggam erat tanpa ragu, sebagaimana hadis riwayat Abu Dawud dan at-Tirmidzi:‎‎عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ رضي الله عنه قَالَ، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ»‎‎"Maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk. Peganglah ia erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham."‎‎Kunci utama untuk bertahan di tengah gejolak fitnah adalah menjaga kelurusan ikrar iman yang diikuti dengan konsistensi sikap. Landasan tersebut ditegaskan dalam riwayat Muslim:‎‎عَنْ سُفْيَانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنه قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا بَعْدَكَ. قَالَ: «قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ»‎‎"Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah,' kemudian istiqamahlah."‎‎Sebagai penutup, Dosen IAIPI Bandung ini mengingatkan bahwa bernilai tingginya ibadah pada masa-masa penuh kekacauan setara dengan pahala berhijrah bersama Rasulullah SAW. Hal ini sebagaimana riwayat Muslim:‎‎عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ»‎‎"Ibadah pada masa penuh kekacauan (fitnah) seperti berhijrah kepadaku."‎‎"Beratnya menjalankan agama merupakan petunjuk dahsyatnya fitnah zaman, bukan tanda bahwa Islam itu sulit. Solusi terbaik bagi setiap mukmin adalah memperdalam ilmu syar'i, memilih lingkungan yang saleh, serta terus memperkuat kesabaran dan doa tanpa berputus asa dari rahmat Allah," pungkasnya.‎
(zhd)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya