LANGIT7.ID-Jakarta; Ketua Umum Syarikat Islam (SI) Hamdan Zoelva mengungkap kembali jejak panjang organisasi tersebut dalam sejarah pergerakan Indonesia. Dalam pertemuan dengan Ketua MPR RI Ahmad Muzani bersama jajaran, di gedung MPR, senin(14/9/3026) sejarah SI dibahas sebagai salah satu akar penting yang berkaitan dengan perkembangan berbagai organisasi Islam dan gerakan kebangsaan di Indonesia.
Ketua MPR Ahmad Muzani yang juga fasih bicara soal sejarah SI, menceritakan hubungan KH Ahmad Dahlan dengan SI serta perjumpaannya dengan Soekarno. Muzani menceritakan bahwa Soekarno pernah mengisahkan perkenalannya dengan Ahmad Dahlan sekitar 1920.
Menurut cerita yang disampaikan, Ahmad Dahlan melakukan perjalanan menggunakan kereta api dan dalam perjalanan tersebut kemudian singgah di tempat yang mempertemukannya dengan Soekarno yang ketika itu masih muda.
Soekarno disebut terkesan dengan sosok Ahmad Dahlan. Kesan tersebut antara lain berkaitan dengan pribadi yang alim, tawadhu, rendah hati, ikhlas, serta memiliki pandangan visioner mengenai masa depan bangsa.
“Makanya dia memahami Muhammadiyah langsung dengan Ahmad Dahlan,” kata Muzani dalam pertemuan tersebut.
Pembahasan kemudian berkembang pada hubungan antara perkembangan Muhammadiyah dan jalur transportasi kereta api. Ia menyebut sejumlah daerah yang terhubung dengan jalur kereta api menjadi tempat berkembangnya Muhammadiyah.
“Dan memang saya lihat dalam sejarah Muhammadiyah, daerah-daerah yang langsung dihubungkan dengan kereta api, itu Muhammadiyah berdiri,” ujarnya.
Daerah yang disebut antara lain Solo, Surabaya dan Tasikmalaya. Tasikmalaya disebut sebagai daerah pertama di Jawa Barat yang menjadi tempat berdirinya Muhammadiyah karena terdapat jalur kereta api dari Jakarta menuju Tasik.
Pembicaraan tersebut juga menyinggung posisi SI dalam sejarah pergerakan Islam dan kebangsaan Indonesia.
Dalam pertemuan itu, SI disebut sebagai “ibu gerakan” Indonesia. Organisasi seperti Muhammadiyah, NU disebut memiliki hubungan sejarah dengan tradisi pergerakan yang berkembang melalui SI.
Nama HOS Tjokroaminoto juga menjadi bagian penting dalam pembahasan. Tjokroaminoto disebut sebagai sosok yang menjadi rujukan berbagai gerakan dan bahkan digambarkan sebagai “raja tanpa mahkota”.
Pembicaraan mengenai hubungan SI dengan organisasi Islam lainnya juga mengarah pada sejarah lahirnya Nahdlatul Ulama (NU).
Dalam percakapan tersebut disampaikan bahwa sebelum NU berdiri, terjadi perdebatan di kalangan ulama mengenai pilihan untuk membuat organisasi baru atau tetap berada dalam SI. Para ulama yang terlibat dalam perdebatan tersebut disebut merupakan anggota SI.
Perdebatan itu pada akhirnya mengarah pada pilihan untuk mendirikan organisasi baru yang kemudian melahirkan NU.
Pembahasan juga menyinggung Komite Hijaz sebagai bagian dari sejarah awal berdirinya NU. Dalam cerita yang disampaikan dalam pertemuan, inisiatif Komite Hijaz disebut berkaitan dengan KH Abdul Wahab Hasbullah dan kemudian meminta izin kepada KH Hasyim Asy'ari. KH Hasyim Asy'ari disebut meminta agar izin juga diperoleh dari Tjokroaminoto.
Cerita tersebut kembali memperlihatkan persinggungan antara SI dengan tokoh-tokoh yang kemudian menjadi bagian dari sejarah NU.
Hamdan: SI Sempat “Mati” Puluhan TahunHamdan juga berbicara mengenai kondisi SI yang sempat kehilangan gaungnya dalam waktu panjang.
Ia mengatakan SI pernah berada dalam kondisi seperti organisasi yang hampir mati hingga sekitar 30 tahun. Hamdan kemudian menyebut dirinya telah sekitar 10 tahun berupaya menghidupkan kembali semangat organisasi tersebut.
“Jadi saya sepuluh tahun nih baru pelan-pelan membangkitkan kembali. Saya merasa sayang sekali jika SI harus hilang dan sejarah ini dilupakan. Hanya dalam buku-buku saja,” ujar Hamdan.
Menurut dia, upaya tersebut mulai mendapatkan respons dari kalangan generasi muda. Ia menyebut mulai bermunculan mahasiswa dan kader muda SI di berbagai daerah.
“Jadi sekarang alhamdulillah anak-anak muda mulai semangat nih. Ada mahasiswanya luar biasa itu. SI ini sekarang punya banyak massa. Termasuk seluruh Indonesia. Ah ini kader-kader muda ini. Pemuda SI. Seluruh Indonesia. Rame,” katanya.
Hamdan mengatakan kebangkitan tersebut berkaitan dengan upaya mengingatkan kembali sejarah SI kepada generasi muda.
SI Siapkan Kongres ke-42 di SurabayaDalam pertemuan itu juga dibahas rencana pelaksanaan Kongres ke-42 SI di Surabaya.
Surabaya dipilih karena memiliki posisi penting dalam sejarah perkembangan SI. Sebelumnya, Kongres ke-41 disebut dilaksanakan di Solo karena kota tersebut juga menjadi salah satu tempat awal pertumbuhan SI.
Kongres ke-42 direncanakan dibuat lebih besar sebagai bagian dari upaya menumbuhkan kembali semangat organisasi. Dalam kongres SI, Hamdan juga mengundang Presiden dan Ketua MPR untuk hadir. "Masak Presiden di muktamar NU bisa hadir dua kali di pembukaan dan penutupan, masak gak hadir di kongres SI," ujar Hamdan yang langsung direspon Ketua MPR,"Iya..iyaaa."
DIjelaskan, basis massa SI yang disebut kuat berada di Madura, khususnya Pamekasan. Dalam pembicaraan tersebut disebut hampir seluruh wilayah Madura memiliki jejak SI dan sejumlah kiai di wilayah tersebut juga disebut memiliki keterkaitan dengan SI.
Selain Madura, Jawa Barat juga disebut memiliki sejumlah sekolah dan lembaga pendidikan yang dianggap memiliki semangat atau afiliasi dengan SI.
Salah satu yang disebut adalah jaringan pendidikan Islam di Jawa Barat. Dalam percakapan tersebut juga disebut nama SMP Cokro, meski sekolah-sekolah tersebut dikatakan sudah banyak yang tidak berjalan.
Membawa Gagasan Ekonomi KerakyatanSelain sejarah, pembicaraan mengenai SI juga menyentuh agenda organisasi dalam satu dekade terakhir.
Disebutkan bahwa SI berupaya mengubah wajah organisasi melalui apa yang disebut sebagai “dawai ekonomi”, yang diarahkan pada ekonomi kerakyatan.
“Dawai ekonomi itu ekonomi kerakyatan,” kata salah satu pembicara dalam pertemuan tersebut.
SI juga disebut telah mengirimkan surat untuk mendukung program “Operasi Merah Putih” di seluruh Indonesia karena dinilai memiliki kesamaan dengan program yang sedang dijalankan organisasi.
Hamdan menambahkan bahwa dalam pelaksanaan sebuah program, bisa saja terdapat hal yang tidak sesuai dengan cita-cita awal. Menurutnya, hal tersebut dapat diperbaiki dalam proses pelaksanaan.
Dalam pertemuan itu, kehadiran Presiden dalam agenda SI juga diharapkan dapat menjadi momentum penting bagi organisasi SI.
Kantor Baru SISelain agenda organisasi dan kongres, pembicaraan juga menyinggung rencana SI memiliki kantor baru.
Disebutkan bahwa organisasi sedang dalam proses membeli kantor baru. Bangunan yang dibicarakan memiliki luas tanah sekitar 500 meter persegi dan terdiri atas empat lantai.
Rencana tersebut menjadi bagian dari pengembangan fasilitas organisasi setelah persoalan lahan dan sertifikat di lokasi sebelumnya menjadi salah satu kendala.
Pertemuan Hamdan Zoelva dan Ahmad Muzani bersama jajaran tersebut berlangsung dengan pembahasan yang cukup luas, mulai dari sejarah pergerakan Islam dan kebangsaan, hubungan SI dengan Muhammadiyah dan NU, regenerasi organisasi, agenda Kongres ke-42, hingga penguatan kembali basis SI di sejumlah daerah.(*/saf)
(lam)