home edukasi & pesantren

Jejak Sejarah dan Tantangan Dakwah Islam Pasca-Penjajahan Barat di Nusantara

Senin, 17 Agustus 2026 - 06:05 WIB
Jejak Sejarah dan Tantangan Dakwah Islam Pasca-Penjajahan Barat di Nusantara
Oleh: Dr. H. Ahmad Zuhdi (Dosen STAI Persis Jakarta)



Dinamika pasang surut peradaban merupakan bagian tak terpisahkan dari keniscayaan sejarah manusia yang tunduk pada hukum-hukum Ilahi. Allah SWT telah mengingatkan kaum beriman agar senantiasa memiliki keteguhan jiwa, tidak bersikap lemah, dan tidak pula berlarut dalam kesedihan menghadapi berbagai ujian zaman, sebab keimanan merupakan parameter utama yang menempatkan manusia pada derajat paling tinggi di sisi-Nya. Ketetapan fundamental ini terpatri dalam firman Allah SWT pada Surat Ali 'Imran ayat 139 hingga 140:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (١٣٩) إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ ۚ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ (١٤٠)

Artinya: "Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itu pun mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran)..." (QS. Ali 'Imran: 139–140).

Ayat yang mulia ini diturunkan dalam latar sejarah yang sangat spesifik, yakni pasca-Perang Uhud. Kala itu, pasukan muslimin mengalami ujian berat dan kekalahan taktis di kawasan Jabal Rummah akibat kelalaian sebagian pemanah yang tergiur oleh harta rampasan perang atau ghanimah. Melalui ayat ini, Allah SWT mengembalikan rasa percaya diri kaum muslimin dengan mengingatkan mereka pada nikmat kemenangan agung yang sebelumnya telah diraih pada Perang Badar. Dari peristiwa sejarah ini terpetik pelajaran teologis yang sangat mendalam bahwa setiap kepayahan, rasa sakit, dan penderitaan yang dialami oleh orang-orang beriman senantiasa bernilai pahala, meleburkan dosa-dosa, dan mereka yang gugur dianugerahi derajat mulia sebagai syuhada. Sebaliknya, segala pengorbanan, harta, dan biaya besar yang dikeluarkan oleh pihak-pihak yang memusuhi kebenaran justru berujung pada akumulasi dosa serta kerugian yang berlipat ganda. Oleh sebab itu, umat Islam dilarang merasa cemas atau berkecil hati, karena siklus kejayaan dan kemunduran senantiasa diputar oleh Allah SWT sebagai bagian dari sunnatullah untuk menguji ketaatan dan menyaring hamba-hamba-Nya yang sejati.

Pergiliran peradaban dalam panggung sejarah dunia memperlihatkan kontras yang sangat nyata antara perjalanan peradaban Barat dan peradaban Islam. Ketika benua Eropa berada dalam belenggu Abad Kegelapan atau The Dark Ages yang berlangsung sejak rentang abad ke-5 hingga abad ke-15 Masehi (sekitar tahun 500 hingga 1400 M), keilmuan di Barat mengalami kemandekan yang parah akibat dominasi mutlak dan otoritas dogmatis lembaga keagamaan gereja. Pada masa itu, kebebasan berpikir ilmiah dipasung dan seluruh nalar keilmuan wajib tunduk pada doktrin keagamaan yang kaku, yang di antaranya dibuktikan secara jelas oleh peristiwa pemidanaan dan pengadilan terhadap tokoh-tokoh sains perintis seperti Galileo Galilei.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya