Ketidakmampuan Manusia Menandingi Wahyu dan Ancaman Neraka
Ahmad zuhdi
Sabtu, 22 Agustus 2026 - 18:35 WIB
Ketidakmampuan Manusia Menandingi Wahyu dan Ancaman Neraka
Tantangan Allah ﷻ kepada orang-orang yang meragukan Al-Qur'an ditegaskan secara lugas melalui kemukjizatan ayat-ayat-Nya. Setelah menantang pihak penentang untuk membuat satu surat yang sebanding, Al-Qur'an secara langsung mengunci ketidakmampuan manusia tersebut sekaligus memaparkan risiko logis bagi siapa pun yang tetap berada dalam pendustaan.
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ وَلَن تَفْعَلُوا۟ فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ
Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) -- dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah: 24).
Penegasan ketidakmampuan tersebut diawali dengan frasa "Fa in lam tafʿalū". Imam Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa makna penggalan ini mengarahkan pembaca pada fakta bahwa ujian dan percobaan telah membuktikan kelemahan manusia beserta seluruh sekutunya untuk mendatangkan karya yang sebanding dengan Al-Qur'an. Ketidakmampuan tersebut menjadi bukti nyata bahwa firman ini murni datang dari Allah, sekalipun para penentang tetap memilih untuk mendustakannya.
Di sisi lain, Al-Biqāʿī melihat penggunaan kata syarat pada bagian ini sebagai bentuk kelonggaran yang sejatinya menyindat dan menegaskan kebodohan para penentang di hadapan kebenaran Ilahi. Ketidakmampuan manusia tersebut ditegaskan tidak hanya berlaku sesaat, melainkan bersifat abadi melalui kalimat "Wa lan tafʿalū".
Ibnu Katsir memaparkan bahwa penggunaan kata lan berfungsi menafikan sesuatu di masa depan secara mutlak, yang bermakna manusia tidak akan pernah sanggup menandingi Al-Qur'an hingga kapan pun. Pernyataan ini menjadi salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur'an karena apa yang dikabarkan benar-benar terbukti sejak zaman Rasulullah ﷺ hingga masa sekarang.
Baca Juga:Khutbah Jumat: Mengisi Kemerdekaan NKRI dengan Nilai Islam
فَإِن لَّمْ تَفْعَلُوا۟ وَلَن تَفْعَلُوا۟ فَٱتَّقُوا۟ ٱلنَّارَ ٱلَّتِى وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلْحِجَارَةُ ۖ أُعِدَّتْ لِلْكَٰفِرِينَ
Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) -- dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah: 24).
Penegasan ketidakmampuan tersebut diawali dengan frasa "Fa in lam tafʿalū". Imam Al-Ṭabarī menjelaskan bahwa makna penggalan ini mengarahkan pembaca pada fakta bahwa ujian dan percobaan telah membuktikan kelemahan manusia beserta seluruh sekutunya untuk mendatangkan karya yang sebanding dengan Al-Qur'an. Ketidakmampuan tersebut menjadi bukti nyata bahwa firman ini murni datang dari Allah, sekalipun para penentang tetap memilih untuk mendustakannya.
Di sisi lain, Al-Biqāʿī melihat penggunaan kata syarat pada bagian ini sebagai bentuk kelonggaran yang sejatinya menyindat dan menegaskan kebodohan para penentang di hadapan kebenaran Ilahi. Ketidakmampuan manusia tersebut ditegaskan tidak hanya berlaku sesaat, melainkan bersifat abadi melalui kalimat "Wa lan tafʿalū".
Ibnu Katsir memaparkan bahwa penggunaan kata lan berfungsi menafikan sesuatu di masa depan secara mutlak, yang bermakna manusia tidak akan pernah sanggup menandingi Al-Qur'an hingga kapan pun. Pernyataan ini menjadi salah satu bukti kemukjizatan Al-Qur'an karena apa yang dikabarkan benar-benar terbukti sejak zaman Rasulullah ﷺ hingga masa sekarang.
Baca Juga:Khutbah Jumat: Mengisi Kemerdekaan NKRI dengan Nilai Islam