home edukasi & pesantren

Tantangan Pesantren di Era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Senin, 25 Oktober 2021 - 20:31 WIB
ilustrasi santri sedang mengkaji kitab (foto: almunawwirkomplekq.com)
Era revolusi industri 4.0 mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Setidaknya ada tiga dampak revolusi itu yakni dehumanisasi, adanya orkestrasi wacana atau tren dalam budaya, dan gejala the death of expertise atau matinya kepakaran.

Misalnya soal kepakaran, meski sudah maju dan tampak mencerdaskan, namun perangkat digital di era 4.0 justru menghilangkan batas sosial dan menghilangkan otoritas keilmuan. Orang bisa komentar apapun, menyajikan analis segila apapun, dan mengambil kesimpulan atas sebuah perkara yang bukan bidang keilmuannya.

Lalu, apa yang harus dilakukan pesantren dan kalangan santri menyikapi revolusi industri 4.0 dan society 5.0?. Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah (Inaifas) Kencong Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI, menilai ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh pesantren. Pertama, tetap mempertahankan ciri khas pesantren. Misalnya berbagai kitab turats yang selama ini diajarkan, adab santri yang selama ini dijunjung tinggi, hingga mekanisme interaksi antar santri.

Baca Juga:RMI PBNU: Santri Harus Lakukan Transformasi Digital di Pesantren

“Karena faktor dehumanisasi yang terjadi pada era 4.0., maka pesantren harus tetap mempertahankan sentuhan manusiawinya, antar guru, guru dengan santri, maupun guru dengan wali santri. Pesantren juga menjadi kanvas budaya yang indah dengan mempertahankan berbagai adat dan kebiasaan yang baik, yang selama ini menjadi wilayah khasnya,” kata Gus Rijal melalui akun facebook-nya, dikutip Senin (25/10/2021).

Kedua, menjadikan era 4.0 sebagai sebuah hal yang ditunggangi. Dia mengibaratkan jika seseorang berselancar di pantai, tidak melawan ombak tapi menungganginya dengan indah. Pada era ini, kalangan pesantren dituntut untuk menunggangi dan mengimbangi perkembangan zaman.

Dia mencontohkan kajian kitab kuning. Kajian tersebut bisa direkam dan disebarluaskan melalui kanal youtube. Bahasanya bisa dikemas lebih renyah dan menggunakan uraian bahasa Indonesia agar bisa dinikmati oleh semua segmentasi kalangan.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pondok pesantren revolusi industri digitalisasi
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya