LANGIT7.ID, Jember - Era revolusi industri 4.0 mengubah banyak hal dalam kehidupan manusia. Setidaknya ada tiga dampak revolusi itu yakni dehumanisasi, adanya orkestrasi wacana atau tren dalam budaya, dan gejala the death of expertise atau matinya kepakaran.
Misalnya soal kepakaran, meski sudah maju dan tampak mencerdaskan, namun perangkat digital di era 4.0 justru menghilangkan batas sosial dan menghilangkan otoritas keilmuan. Orang bisa komentar apapun, menyajikan analis segila apapun, dan mengambil kesimpulan atas sebuah perkara yang bukan bidang keilmuannya.
Lalu, apa yang harus dilakukan pesantren dan kalangan santri menyikapi revolusi industri 4.0 dan society 5.0?. Rektor Institut Agama Islam Al Falah Assunniyah (Inaifas) Kencong Jember, Gus Rijal Mumazziq Z, M.HI, menilai ada tiga hal yang perlu dilakukan oleh pesantren. Pertama, tetap mempertahankan ciri khas pesantren. Misalnya berbagai kitab turats yang selama ini diajarkan, adab santri yang selama ini dijunjung tinggi, hingga mekanisme interaksi antar santri.
Baca Juga: RMI PBNU: Santri Harus Lakukan Transformasi Digital di Pesantren
“Karena faktor dehumanisasi yang terjadi pada era 4.0., maka pesantren harus tetap mempertahankan sentuhan manusiawinya, antar guru, guru dengan santri, maupun guru dengan wali santri. Pesantren juga menjadi kanvas budaya yang indah dengan mempertahankan berbagai adat dan kebiasaan yang baik, yang selama ini menjadi wilayah khasnya,” kata Gus Rijal melalui akun facebook-nya, dikutip Senin (25/10/2021).
Kedua, menjadikan era 4.0 sebagai sebuah hal yang ditunggangi. Dia mengibaratkan jika seseorang berselancar di pantai, tidak melawan ombak tapi menungganginya dengan indah. Pada era ini, kalangan pesantren dituntut untuk menunggangi dan mengimbangi perkembangan zaman.
Dia mencontohkan kajian kitab kuning. Kajian tersebut bisa direkam dan disebarluaskan melalui kanal youtube. Bahasanya bisa dikemas lebih renyah dan menggunakan uraian bahasa Indonesia agar bisa dinikmati oleh semua segmentasi kalangan.
“Beberapa santri juga harus memiliki kemampuan olah digital, baik desain grafis, olah konten video, dan sebagainya,” ucap Gus Rijal.
Ketiga, mewujudkan nilai-nilai pesantren ke publik. Era society 5.0 bertujuan untuk mengintegrasikan ruang maya dan ruang fisik, demikian ungkapan Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe, dalam forum dunia pada 2019.
Ruang maya dan ruang fisik terintegrasi, saling mendukung, dan tiada lagi pengabaian unsur manusiawi. Di era ini, teknologi dihadirkan sedemikian rupa, antara lain untuk mendukung misi-misi sosial. Penggunaan aplikasi media sosial untuk tujuan kemanusiaan sudah banyak dilakukan.
Netizen bukan saja canggih dalam memanfaatkan zona maya yang merupakan wilayah operasional, tapi mereka menjadikan ruang maya sebagai sesuatu yang berkontribusi pada kemaslahatan. Aksi galang dana, protes kesenjangan sosial, aksi peduli sosial, politik, dan budaya semua digalang oleh para netizen.
Baca Juga: Sekum Muhammadiyah: Internet Ruang Bebas, Generasi Muslim Harus Isi dengan Konten Positif
“Mereka tidak kenal satu sama lain secara langsung, namun terkoneksi melalui jaringan dunia maya, dan bergerak bersama-sama atas nama solidaritas. Sekat geografis, sosial, kultural, dan ekonomi menjadi bias. Orkestrasi Gerakan ini tampak menarik, karena selain massif juga simultan,” ucap Gus Rijal.
Maka dari itu, kata dia, kaum santri harus mampu menunggangi perkembangan di era 4.0 sekaligus mewujudkan nilai-nilai pesantren yang ada. Tidak perlu canggung, tapi harus canggih. Tidak usah minder, karena di era ini santri dituntut untuk pintar.
“Jangan hanya diam, melainkan harus bergerak. Jadikan tombol ‘klik’ agar selalu bermanfaat, kembangkan keilmuan kita dalam dunia nyata dan maya, agar kelak, kita bisa memanen kebaikan ini di akherat, sebab apapun yang kita lakukan dengan tombol ‘klik’ ini kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah,” ucap Gus Rijal.
(jqf)