LANGIT7.ID, Jakarta - Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed, menyebut perkembangan teknologi dewasa ini sangat pesat dan telah memasyarakat. Internet, misalnya, tak hanya dimanfaatkan kalangan dewasa, namun juga anak-anak dan remaja.
Pesatnya perkembangan teknologi itu juga diiringi dengan peningkatan pengguna internet. Maka peran pemuda muslim dibutuhkan untuk menyelamatkan generasi muda dari akses internet negatif. Para generasi muda harus bekerja keras memenuhi ruang maya dengan konten-konten positif.
“Internet adalah ruang bebas yang bisa diisi konten apapun oleh siapapun. Banyak juga konten keislaman yang bagus. Jangan hanya dilihat dari aspek negatifnya. Hal yang bisa dilakukan adalah bagaimana mengupload konten positif dan bermanfaat melalui berbagai moda seperti tik-tok, youtube, dan lain sebagainya,” kata Prof. Mu’ti kepada LANGIT7.ID, Jumat (15/10/2021).
Baca Juga: Geliat Permainan Tradisional Hadapi Gempuran Game Online
Para pemuda muslim harus hadir memberikan solusi yang konstruktif. Ini merupakan salah satu bentuk upaya menyelamatkan generasi penerus dari marabahaya dunia maya.
“Para gamer dituntut lebih kreatif menciptakan game online yang edukatif dan menyenangkan. Inilah solusi yang konstruktif. Hanya menyalahkan dan melihat internet dari sisi negatif apalagi menjauhi bukanlah solusi,” ucap Prof Mu’ti.
Dia menyebut digitalisasi sebagai pertanda era digital tidak bisa dihindari. Fakta ini harus dijalani dan dihadapi. Digitalisasi terjadi dalam semua aspek kehidupan, termasuk dalam bidang keagamaan. “Kehidupan digital, khususnya Internet, bisa berdampak positif atau negatif,” kata Prof Mu’ti.
Baca Juga: Prof Abdul Mu’ti: Digitalisasi Membawa Dampak Positif jika Dihadapi dengan BijakKehidupan digital bisa berdampak positif dan negatif tergantung setiap orang dalam menyikapi perkembangan itu. Dia mencontohkan, seorang anak bisa memanfaatkan internet sangat bergantung pada bimbingan dan pengawasan pendidik dan orang tua. Dalam dunia bisnis dan pelayanan publik, pelayanan online sangat membantu.
“Demikian halnya dengan dunia pendidikan. Internet sangat bermanfaat dan membantu pelajar untuk mendapatkan materi pelajaran yang bermanfaat secara cepat. Walaupun kecenderungan ini berpengaruh terhadap berkurangnya minat membaca buku,” ucap Prof Mu’ti.
Pembelajaran online akan menjadi model pembelajaran masa depan. Sebelum pandemi Covid-19 sudah banyak lembaga dan satuan pendidikan yang mengembangkan pembelajaran jarak jauh secara daring dan e-learning. Pembelajaran online lebih efisien dan fleksibel.
Memang ada kesulitan untuk pembelajaran aspek afektif dan psikomotor. Akan tetapi, seiring dengan waktu berbagai kendala dan masalah mulai dapat diatasi.
“Kesulitan yang serius dengan pembelajaran daring adalah pada pendidikan anak usia dini dan pendidikan dasar dimana bimbingan guru dan pendidikan sebagai proses sosialisasi dan pembentukan karakter sangat diperlukan,” ucap dia.
(jqf)