LANGIT7.ID, Jakarta - Menurut para psikolog, bermain itu jamak menjadi kebutuhan bagi anak. Persoalannya, di era digital ini kebutuhan anak banyak terpaku pada gadget dan
game online. Data dari Klinik Adiksi Perilaku Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), pada tahun 2018 jumlah anak dan remaja yang sampai pada level adiksi atau kecanduan game online di DKI Jakarta sebanyak 14 persen.
Di tengah gempuran
game online terhadap anak, Mustofa Sam bersama komunitasnya tak henti menggiatkan sosialisasi dan edukasi permainan tradisional kepada anak dan remaja. Menurutnya permainan tradisional bisa menjadi sarana hiburan yang lebih edukatif dan bermanfaat.
"Sangat bisa (menggantikan
game online), bahkan bukan hanya jadi alternatif. Opsi alternatif muncul sebab maraknya
gadget," kata pria yang akrab disapa Cak Mus kepada LANGIT7.ID , Rabu (7/7/2021).
Menurutnya, dalam memilih permainan anak adalah objek yang belum punya kedewasaan dalam memilih. Sehingga merupakan peran orang tua dalam memilihkan opsi hiburan bagi anak.
"Ingat anak-anak tidak punya kesempatan memilih jenis permainan tapi orang tua hanya memberi kesempatan untuk dikenalkan permainan digital (
gadget) saja," kata Mustofa.
Berdasarkan pengalamannya mensosialisasikan permainan tradisional, 99 persen anak tertarik dengan permainan tradisional. Sementara sisanya tertarik dengan
gadget karena sejak awal sudah dibiasakan dan diizinkan berlama-lama oleh orang tuanya untuk bermain
gadget.Menurut pengalaman Mustofa dan komunitasnya, permainan tradisional bisa memberikan dampak lebih positif kepada anak dibandingkan
game online. Ada interaksi sosial yang hilang ketika seorang anak hanya terpaku pada
game online."Jika membandingkan, kesimpulan perbedaannya sampai sekarang adalah terkait interaksi sosial secara langsung. Di mana poin ini menjadikan sang anak sebagai manusia seutuhnya bukan manusia sebagian," tutur Mustofa.
Mustofa melihat ada anak-anak yang ramai di media sosial tapi sepi di dunia nyata. Hal itu terjadi karena tak terbiasa dalam interaksi sosial secara langsung di dunia nyata. Maka jangan heran, kata Mustofa, bila ada anak-anak masa kini yang punya dualisme sifat yang bertolak belakang satu sama lain.
Permainan tradisional, tidak hanya menjadi sarana hiburan anak tapi juga mengasah ketangkasan dan kreativitas. Sebab semua aspek dalam diri anak harus ikut aktif mulai dari pikiran, emosi, fisik hingga interaksi sosial. Bahkan anak bisa terlibat aktif tidak hanya memainkan namun menciptakan permainan sendiri.
Kampoeng Dolanan dan KPOTI
(Foto: Kampoeng Dolanan)Dalam mensosialisasikan dan mengedukasi masyarakat terlebih anak dan remaja untuk mengenal permainan tradisional, Mustofa tidak sendiri. Ia mendirikan komunitas bernama Kampoeng Dolanan.
Bahkan di level nasional ada organisasi bernama Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) yang menaungi pegiat permainan tradisional di seluruh Indonesia.
"Tidak hanya pegiat, di dalam KPOTI juga terdapat para pedagang, birokrat dan lain-lain," ungkap Mustofa.
Setiap tahun, Organisasi ini bersama segenap komunitas yang dinaunginya sering melakukan menggelar agenda nasional.
Tak hanya mengajak anak bermain permainan tradisional, para penggiat juga mengajari anak-anak untuk bisa membuat permainan tradisionalnya sendiri dengan mengadakan workshop bagi anak-anak dan remaja.
"Dalam mendekatkan diri kepada anak-anak zaman now untuk menerima kehadiran permainan tradisional dibutuhkan kreativitas dan strategi pendekatan yang baik, yakni salah satunya mengarahkan anak-anak untuk terampil dalam hal membuat permainan tradisional melalui workshop dolanan. Diantaranya menghias yoyo, keke’an, membuat kincir angin, praktek science dan lain sebagainya," kata Mustofa.
Selain itu, Kampoeng Dolanan yang digagas Mustofa juga melakukan berbagai penelitian hingga pemberdayaan. Di sebuah kampung di Surabaya, ia bergiat bersama Karang Taruna kampung tersebut.
Dengan fokus permainan tradisional, komunitas ini bisa melakukan penelitian seputar permainan tradisional, menjadi event organizer hingga memberdayakan masyarakat di kampungnya dengan membuat souvenir berupa alat permainan tradisional seperti yoyo dan sebagainya.
Kendati demikian, Mustofa menyayangkan masih minimnya penggerak yang bisa mensosialisasikan permainan tradisional.
"Minim penggerak permainan tradisional, dampaknya minim juga yang teredukasi terkait permainan tradisional," pungkasnya.
(arp)