Hari Anak Nasional jatuh pada Rabu, 23 Juli 2025 dan akan diperingati secara desentralistik di seluruh sekolah di Indonesia, agar lebih banyak anak dapat terlibat langsung tanpa harus datang ke satu lokasi pusat. Serta tak lupa untuk menghidupkan kembali permainan tradisional.
Dokter Spesialis Tumbuh Kembang Anak dr Bernie Endyarni Medise, tak menyarankan lato-lato dimainkan anak usia balita karena kemampuan motoriknya belum baik.
Guru Besar Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Koentjoro, menilai, permainan lato-lato yang belakangan ini viral bisa mengurangi ketergantungan anak untuk bermain gawai atau handphone (HP). Fokus bisa teralihkan ke permainan tradisional tersebut.
Meski seringkali bunyi yang ditimbulkan cukup mengganggu, tapi jangan melarang anak bermain lato-lato. Orangtua cukup mengarahkan dan mengawasi permainan agar tidak menimbulkan dampak negatif saat dimainkan.
Psikolog, Dara Mutia Ulfah, mengatakan permainan tradisional seperti engklek, lompat tali, atau bekel merupakan permainan yang membuat tubuh menjadi aktif bergerak yang erat kaitannya dengan perkembangan motorik anak.
Sama seperti Indonesia, awal 1970-an, lato-lato pernah populer di Calcinatello, sebuah provinsi kecil di Italia dengan populasi 12.832 orang. Bahkan, kota itu juga mengadakan kompetisi tahunan untuk penggemar lato-lato.
Penghujung tahun 2022, permainan tradisional anak-anak, Lato-lato menjadi tren. Meski belakangan menjadi tren, namun sejatinya permainan tradisional ini sudah dikenal sejak tahun yan1990-an.
Gulat Pathol merupakan salah satu permainan tradisional yang ada di Kabupaten Rembang yang hingga saat ini masih dilestarikan sebagai kesenian tradisional.
Komunitas pecinta wisata dan budaya lokal di Tulungagung Jawa Timur menggelar lomba permainan tradisional untuk anak-anak, remaja hingga dewasa untuk melestarikan budaya.
ouring menggunakan sepeda motor adalah hal biasa, tapi touring sendiri keliling Jawa untuk mengenalkan permainan tradisional hanya dilakukan Mustofa Sam.