Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Jum'at, 19 Juni 2026
home wisata halal detail berita

Menilik Sejarah Gulat Pathol, Permainan Tradisional Khas Rembang

hasanah syakim Kamis, 28 Juli 2022 - 11:05 WIB
Menilik Sejarah Gulat Pathol, Permainan Tradisional Khas Rembang
Gulat Pathol merupakan permainan tradisional khas Rembang yang hingga saat ini masih tetap dilestarikan (foto: istimewa)
LANGIT7.ID, Rembang - Gulat Pathol merupakan salah satu permainan tradisional yang ada di Kabupaten Rembang yang hingga saat ini masih dilestarikan sebagai kesenian tradisional.

Dalam sejarahnya, permainan ini kerap digunakan sebagai rangkaian menyeleksi para prajurit.

Saat ini permainan Gulat Pathol ini kerap diiringi alat musik berupa tabuhan gendang, membuat penonton yang melihat Gulat Pathol bersorak riuh tanda menikmati permainan yang dipertontonkan.

Permainan ini melibatkan dua lelaki yang mengadu kekuatan fisik di arena, keduanya bertelanjang dada kemudian mengenakan celana pendek. Dipinggang mereka diikatkan semacam sabuk kain putih.

Baca juga: Meriam Bambu, Tradisi Ramadhan Anak Betawi yang Tak Eksis Lagi

Selain kendang, irama musik juga diiringi gamelan. Dua peserta saling mendorong mengadu kekuatan. Sesekali ada bantingan. Dalam permainan ini tidak ada pukulan atau tendangan. Sebab, inilah yang disebut permainan Gulat Pathol permainan khas Kabupaten Rembang.

Tradisi ini masih lestari di wilayah Rembang Timur, tepatnya di Kecamatan Sarang dan sekitarnya. Pada permainan gulat ini para peserta akan diawasi oleh seorang wasit. Setiap ada satu pemain yang jatuh maka aturannyaa permainan akan dihentikan sejenak.

Permainan ini biasanya diselenggarakan pada agenda tertentu sebagai sarana hiburan masyarakat. Dan pada zaman dahulu, permainan Gulat Pathol dilakukan saat akan seleksi masuk pasukan militer.

Anggota Forum Komunikasi Masyarakat Sejarah (Fokmas) Lasem, Danang Swastika menceritakan, gulat pathol ini erat kaitannya dengan tokoh bernama Pengeran Santi Yoga, dia adalah putra ketujuh dari pasangan Empu Santi Badra dan Dewi Sukati.

Lebih lanjut, Danang menjelaskan, semasa muda Pangeran Santi Yoga tengah membantu kakaknya bernama Pangeran Santi Puspa mengurusi kapal-kapal di Pelabuhan Kiringan, yang di masa itu merupakan pelabuhan khusus bagi militer.

"Kala itu, Pangeran Santi Yoga bertugas merekrut pasukan militer. Salah satunya melalui metode Gulat Pathol. Siapa yang menang akan masuk dinas kemiliteran yang ada di Lasem masa itu," kata Danang dikutip Rabu (27/7/2022).

Danang mengatakan, Pangeran Santi Yoga menjadi tokoh Gulat Pathol mulai dari pesisir Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang sampai wilayah Kecamatan Sarang. Hingga membuatnya dikenal sebagai Bapak Pathol Rembang.

"Mulai dari situ, lama kelamaan Gulat Pathol ini pun masih bertahan dan dilestarikan oleh masyarakat di Wilayah Rembang Timur. Saat ini Gulat Pathol atau Pathol Sarang sudah berkembang menjadi sebuah kesenian," katanya.

Selanjutnya, Danang juga menyebutkan, Gulat Pathol bisa menjadi potensi budaya di Kota Garam sebab Lasem Rembang sudah mulai jarang.

Baca juga: Mengenal Kampung Cisande, Desa Wisata Berbasis Edukasi dan Peternakan

"Saat ini, napak tilasnya Bapak Pathol Rembang itu bisa ditemui di wilayah Desa Punjulharjo, Kecamatan Rembang. Di tempat tersebut terdapat makam dengan batu nisan berukiran motif Surya Majapahit.

Menurutnya, makam itulah yang hingga kini menjadi tempat peristirahatan Pangeran Santi Yoga dan diperkirakan makam ini berusia sekitar tahun 1500-an.

"Fokmas bersama Paguyuban Ki Asem Gede berencana menata lokasi ini. Dengan harapan, pelestarian situs sejarah yang ada di Lasem bisa terlaksana dengan baik, serta mendapatkan kepedulian dan partisipasi dari berbagai pihak," harap Danang.

(sof)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Jum'at 19 Juni 2026
Imsak
04:30
Shubuh
04:40
Dhuhur
11:57
Ashar
15:18
Maghrib
17:50
Isya
19:04
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)