Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 06 Juni 2026
home community detail berita

Meriam Bambu, Tradisi Ramadhan Anak Betawi yang Tak Eksis Lagi

fajar adhitya Sabtu, 30 April 2022 - 13:03 WIB
Meriam Bambu, Tradisi Ramadhan Anak Betawi yang Tak Eksis Lagi
Di Jakarta, tradisi meriam bambu atau meriam sundut terinspirasi dari meriam-meriam tempur milik Belanda pada masa penjajahan. Foto: Langit7.id/iStock.
LANGIT7.ID, Jakarta - Bleduran adalah nama permainan tradisional meriam sundut pada bulan Ramadhan oleh anak-anak Betawi zaman dahulu. Dalam tradisi lain, Bleduran juga dikenal sebagai Dhul di Solo, Dugderan, Bumbung atau Long Bambu di Jawa Tengah, Bebeledugan di Jawa Barat, atau Bunggo untuk sebagian wilayah di kawasan timur Indonesia.

Di Jakarta, tradisi meriam bambu atau meriam sundut terinspirasi dari meriam-meriam tempur milik Belanda pada masa penjajahan. Permainan ini umumnya dilakukan oleh remaja laki-laki hingga dewasa karena memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi.

Meriam bambu dibuat dari sebatang bambu dengan kualitas dan ukuran tertentu yang dilubangi bagian dalam, serta bagian pangkal permukaan untuk tempat bahan peledak berupa karbit atau minyak tanah dan memantik api. Cara kerjanya persis seperti meriam.

Baca Juga: Sejarah Tradisi Lebaran di Indonesia, Sudah Ada Sejak Abad ke-7 Masehi

“Jenis bambu untuk membikin bleduran biasanya bambu petung atau betung. Selain berdiameter lebih besar, bambunya lebih tebal. Oleh sebab itu kami memilih jenis bambu ini," tulis Ketua Litbang Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra dikutip laman Kebudayaan Betawi.

"Jenis bambu lain pun tetap dapat dipakai untuk membuat bleduran, namun kualitas suaranya kurang jegar-jegur (tidak berdentum). Bisa-bisa suaranya cempreng mirip petasan ceplikan (petasan cabe),” imbuhnya.

Yahya menjelaskan, anak Betawi tempo dulu biasa membuat bleduran sehabis mengaji di langgar, sekitar pukul sembilan pagi, sembari ngangon kambing. Waktu bermain bleduran biasanya malam hari, setelah salat tarawih hingga menjelang sahur.

Baca Juga: Si Manis Cantik, Geplak Jahe dari Yogyakarta untuk Teman Berbuka

“Maka kami pun pergi ke pinggir kali atau tempat lain yang ditumbuhi pohon bambu. Biasanya pohon bambu yang tumbuh di pinggir kali, bebas kita tebang, jika pohon bambu itu tumbuh di tanah milik seseorang, maka kita harus minta kepada pemiliknya,” katanya.

Yahya tak tahu pasti kapan tradisi bleduran bermula. Bila dikaitkan dengan meriam, jenis senjata berat yang larasnya besar, panjang dan pelurunya besar, maka masyarakat Betawi sudah mengenal sejak lama satu meriam yang legendaris, Meriam Si Jagur. Konon meriam ini dibawa oleh Portugis dan ngendon di tanah Betawi sejak tahun 1520-an.

Lalu pada masa penjajahan Belanda (VOC dan HIndia Belanda), meriam berseliweran di depan mata orang Betawi. Menurut sumber lain, pada era 1830-1834, tradisi sundut meriam biasa dilakukan pasukan penjajah.

Peledakan tak hanya dilakukan sekali, melainkan setiap hari pada pukul delapan dan lima pagi sebagai tanda pergantian pasukan menjaga benteng.

Baca Juga: Cicipi Kuliner Khas Betawi, Si Cantik Putu Mayang

Hampir seantero Batavia mendengarnya dan kemudian dijadikan penanda waktu. Tradisi meriam sundut di tubuh pasukan penjajah dihentikan pada 1903 karena dianggap pemborosan. Masyarakat Betawi tidak melupakan pengalaman itu dan memanifestasikannya ke dalam bentuk permainan bleduran.

Dalam konteks itulah tradisi bleduran mengandung makna spiritual, yakni peringatan bagi manusia agar tidak lupa. Kini tradisi bleduran sudah semakin ditinggalkan, anak-anak Betawi era modern lebih senang bermain gadget untuk mengisi waktu luang.

“Ada yang lebih seru ketimbang memainkan bleduran ini, yaitu adu bleduran. Dahulu ada adu beleduran antarkelompok atau antarjalan, antargang, dan antar kampung,” kata Yahya.

Yang paling seru adu bleduran antarkampung. Itu semua bertujuan untuk meramaikan atau bergembira atas datangnya bulan puasa," sambungnya.

Baca Juga: Rayakan Libur Idul Fitri, Ini 7 Spot Hang Out Baru di Jakarta

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 06 Juni 2026
Imsak
04:27
Shubuh
04:37
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
سُبْحٰنَ الَّذِيْٓ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَقْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَاۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ
Mahasuci (Allah), yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra':1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)