LANGIT7.ID, Jakarta - Budayawan Betawi, Ridwan Saidi, menjelaskan, lebaran merupakan tradisi khas Indonesia yang sudah ada sejak abad ke-7 masehi.
Akar kata lebaran berasal dari bahasa Melayu-Jakarta. Awalnya, lebaran hanya istilah yang dipakai di daerah Betawi, namun lama kelamaan menasional. Terutama pada abad ke-11 dan abad ke-12 saat zona ekonomi Indonesia tumbuh dan masyarakat antarpulau makin akrab.
Tradisi ini sangat meriah. Dulu orang merayakan lebaran selama satu pekan sejak 1 Syawal. Diawali dengan sembahyang lebaran, lalu ziarah kubur, setelah itu silaturahmi ke keluarga, kerabat, dan teman-teman.
“Awalnya, umat Islam bilang Sembahyang lebaran (Shalat Id). Setelah sembahyang lebaran, dipimpin orang dituakan ziarah kubur, setelah ziarah baru kembali ke rumah masing-masing menerima tamu. Jadi, lebaran itu khas Indonesia,” ucap Ridwan Saidi.
Baca Juga: Warga Ternate Meriahkan Tradisi Ela-Ela Sambut Lailatul QadarLebaran sangat dekat dengan tradisi kumpul bersama keluarga. Ada beberapa tradisi khas lebaran yang tetap dipertahankan, terutama di daerah Betawi, seperti Nanggok dan Ngedot. Nanggok adalah budaya memberikan uang kepada anak-anak sebagai sangu saat lebaran.
Ngedot adalah saling bertukar makanan seperti kue, masakan lebaran antar keluarga dan tetangga. Tradisi tukar makanan tersebut dimulai pada malam takbiran.
Untuk suguhan kue lebaran, masyarakat biasanya menyediakan ketupat dan masakan daging pada hari pertama dan kedua. Setelah itu, tamu disuguhi makanan kue kering setelah memasuki hari ketiga dan seterusnya.
Tradisi itu merupakan upaya umat Islam Indonesia memeriahkan idul Fitri setelah satu bulan puasa di bulan Ramadhan. Lebaran artinya penutupan puasa.
“Ketika Islam datang pada medio abad ke-7, istilah itu diteruskan dan disesuaikan dengan ajaran Islam. Dan lebaran itu dalam pengertian asal diartikan sebagai lahir kembali. Setelah penggodokan selama satu bulan puasa, nah itu lahir kembali,” kata Ridwan Saidi di kanal Bursah Interaktif, dikutip Jumat (29/4/2022).
Baca Juga: Sejak Kapan Mulai Dianjurkan Bertakbir pada Hari Raya Idul Fitri?
Ridwan Saidi menjelaskan, lebaran juga diartikan sebagai lahir kembali. Itu mengandung filosofi yang berasal dari syariat Islam. Setelah manusia disucikan dengan ibadah satu bulan puasa, dia lahir kembali pada saat hari lebaran.
“Lahir kembali tanpa dosa. Maka kita perlu baju baru sebagai tanda. Tradisi ini sudah ada sejak abad ke-7. Tapi syariat secara penuh baru masuk pada abad ke-10,” ucap Ridwan Saidi.
(jqf)