Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Sabtu, 18 April 2026
home edukasi & pesantren detail berita

Sejak Kapan Mulai Dianjurkan Bertakbir pada Hari Raya Idul Fitri?

fajar adhitya Jum'at, 29 April 2022 - 02:10 WIB
Sejak Kapan Mulai Dianjurkan Bertakbir pada Hari Raya Idul Fitri?
Ilustrasi. Foto: Langit7.id/iStock.
LANGIT7.ID, Jakarta - Bertakbir pada hari raya Idul Fitri merupakan bukti kemahabesaran Allah Swt setelah satu bulan menjalankan ibadah shaum di bulan Ramadhan. Dalam tradisi Indonesia, takbiran mulai dikumandangkan sejak malam satu syawal, bahkan ada juga yang bakda maghrib. Sebenarnya sejak kapan takbir tersebut dikumandangkan.

Sahabat Ibn Abi Syaibah radiallahu anhu meriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar rumah menuju lapangan kemudian beliau bertakbir hingga tiba di lapangan. Beliau tetap bertakbir sampai sahalat selesai. Setelah menyelesaikan shalat, beliau menghentikan takbir. (HR Ibn Abi Syaibah dalam Al Mushannaf 5621).

Waktu takbir Idul Fitri berkumandang adalah sejak subuh satu Syawal dan berakhir setelah shalat Id. Adapula yang berpendapat selepas matahari terbenam pada akhir Ramadhan. Gema takbir Idul Fitri dapat dikumandangkan di mana saja, tidak harus di masjid.

Baca Juga: Ucapan Selamat Lebaran, Arti Doa Taqabbalallahu Minna Wa Minkum

Hukum takbiran pada Hari Raya Idul Fitri adalah sunnah menurut jumhur ulama. Dalam kitab Fathul Qarib disebutkan bahwa takbir pada malam hari raya disunahkan. Kesunahan ini ditujukan untuk semua orang Islam, baik laki-laki maupun perempuan, mukim ataupun musafir, sedang berada di rumah, masjid, ataupun di pasar.

Dilansir NU Online, Muhammad bin Qasim Al-Ghazi mengatakan:

العيد، أي: عيد الفطر، ويستمر هذا التكبير إلى أن يدخل الإمام في الصلاة للعيد، ولا يسن التكبير ليلة عيد الفطر عقب الصلاة، ولكن النووي في "الأذكار" اختار أنه سنة

Artinya, “Disunahkan takbir bagi laki-laki dan perempuan, musafir dan mukim, baik yang sedang di rumah, jalan, masjid, ataupun pasar. Dimulai dari terbenam matahari pada malam hari raya berlanjut sampai shalat Idul Fithri. Tidak disunahkan takbir setelah shalat Idul Fithri atau pada malamnya, akan tetapi menurut An-Nawawi di dalam Al-Azkar hal ini tetap disunahkan.”

Dalil bertakbir pada Hari Raya Idul Fitri adalah Surat Al-Baqarah ayat 185. Dalam surat tersebut, Allah menutup penjelasan tentang kewajiban berpuasa dengan seruan mengagungkan-Nya.

Baca Juga: Warga DKI Jakarta Dilarang Nyalakan Petasan saat Malam Takbiran

وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُوْنَ

Artinya: …Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

Dalam Tafsir Ibnu Katsir, mengenai kalimat وَلِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُم maksudnya supaya seorang muslim mengingat Allah sesuai ibadah yang dilakukan. Oleh karena itu, sunnah Rasulullah menganjurkan untuk bertasbih, bertahmid, dan takbir setelah mengerjakan shalat wajib. Ibnu Abbas mengatakan: "Kami tidak mengetahui berakhimya shalat Rasulullah kecuali dengan takbir."

Sementara dalam Tanfidz Keputusan Musyawarah Nasional Tarjih XXIV Nomor Keputusan 17/SK-PP/II-A/1.a/2001 tanggal 15 Februari 2001 lampiran III Tuntunan Ramadhan, antara lain menyatakan bahwa takbiran pada malam ‘Id haditsnya lemah. Yang ada adalah hadits Ibnu Umar yang menyatakan bahwa beliau dan sahabat yang lain bertakbir dari rumah ke mushalla dan sampai dengan datangnya imam.

Baca Juga: Anjuran Rasulullah, Perempuan Haid Tetap Ikut ke Lokasi Sholat Id

عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذاَ غَداَ إِلىَ الْمُصَلَّى يَوْمَ اْلعِيْدِ كَبَّرَ فَرَفَعَ صَوْتَهُ بِالتَّكْبِيْرِ، وَفِيْ رِوَايَةٍ كاَنَ يَغْدُوْ إِلى الْمُصَلَّى يَوْمِ اْلفِطْرِ إِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ فَيُكَبِّرُ حَتَّى يَأْتِيَ الْمُصَلَّى يَوْمَ اْلعَيْدِ ثُمَّ يُكَبِّرُ بِالْمُصَلَّى حَتَّى إِذَا جَلَسَ اْلإِمَامُ تَرَكَ التَّكْبِيْرَ. [رواه الشافعي في مسنده جـ 1 : 153، حديث رقم 444 و 445]

Diriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa ia apabila pergi ke tanah lapang di pagi hari Id, beliau bertakbir dengan mengeraskan suara takbirnya. Dalam riwayat lain (dikatakan): Beliau apabila pergi ke tempat shalat pada pagi hari Idul Fitri ketika matahari terbit, beliau bertakbir hingga sampai ke tempat shalat pada hari Id, kemudian di tempat shalat itu beliau bertakbir pula, sehingga apabila imam telah duduk, beliau berhenti bertakbir. [HR. asy-Syafi‘i dalam al-Musnad, I:153, hadis Nomor 444 dan 445].

Untuk itu banyak ulama yang mengambil pensyari'atan takbir pada hari raya Idul Fitri dari ayat ini. Bahkan Daud bin Ali al-Asbahani az-Zhahiri mewajibkan pengumandangan takbir Hari Raya Idul Fitri berdasarkan ayat ini pula.

Baca Juga: Sejarah THR, Gagasan Menteri Bung Karno Soekiman Wirdjosandjojo

(zhd)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Sabtu 18 April 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:56
Ashar
15:14
Maghrib
17:54
Isya
19:03
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)