LANGIT7.ID - LANGIT7.ID -
Touring menggunakan sepeda motor adalah hal biasa yang dilakukan banyak orang. Namun
touring sendiri keliling Jawa untuk mengenalkan
permainan tradisional, hanya dilakukan oleh pria bernama Mustofa Sam atau akrab disapa Cak Mus.
Mustofa adalah pegiat permainan tradisional, pendiri sebuah komunitas bernama
Kampoeng Dolanan. Pada tahun bulan Oktober 2020, ia berinisiatif berkeliling Jawa dengan menggunakan sepeda motor seorang diri.
Mustofa mengaku nekat melakukan perjalanan roadshow keliling Jawa. Apalagi ia belum benar-benar menguasai penanganan sepeda motor atau bagaimana menangani diri ketika sakit.
"Tak paham dengan motor, tak tahu bagaimana menangani diri ketika sakit dan berbagai macam ketidaktahuan yang lainnya. Ini sungguh sebetulnya tidak saya pikirkan ketika berangkat. Tentu harus melibatkan Sang Pencipta dalam setiap perjalanan kita. Tanpa melibatkan Tuhan tidak mungkin perjalanan ini berjalan dengan baik tanpa hambatan," ujar alumni Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini kepada LANGIT7.ID, Rabu (7/7/2021).
Meski begitu Cak Mus sudah mengantongi tujuan dan tempat yang hendak ia singgahi di tiap kota yang akan dilewati. Perjalanan dimulai dari Surabaya melewati pantai utara Jawa singgah di Gresik, Bojonegoro, Cepu, Cirebon, Karawang sampai Jakarta. Dari Jakarta ia melanjutkan perjalanan ke Bandung, Yogyakarta hingga kembali ke Surabaya lewat jalur selatan Jawa.
![Mustofa Sam, Touring Seorang Diri Keliling Jawa Kenalkan Permainan Tradisional]()
Dengan mengendarai sepeda motor Honda Supra X 125, Cak Mus membawa beragam jenis alat permainan tradisional mulai dari egrang bambu, Yapolo permainan khas Jogja , Catur Teuku Oemar permainan khas Aceh, Bas-basan Sepur permainan khas Solo, Balogo permainan khas Kalimantan dan sebagainya.
Semua itu ia bawa seorang diri dengan sepeda motornya keliling Jawa, singgah dari kota ke kota untuk mensosialisasikan permainan tradisional.
"Total waktu yang dibutuhkan ada 19 hari. Woow, ini perjalanan yang sangat seru dan menyenangkan," kata Cak Mus.
Perjalanan yang ditempuh Cak Mus bukan perjalanan yang mudah. Diantaranya ia sempat beberapa kali tersesat, juga harus melewati banyak jalanan sepi hingga hutan saat malam hari yang konon daerah tersebut rawan begal.
"Saat di Semarang, di rumah teman saya, saya dikasih tahu bahwa saya telah melewati daerah yang rawan begal. Tempatnya ada di alas atau hutan dan memang ketika saya melewati daerah tersebut ada perasaan aneh. Waktu itu malam hari saya melewati sana. Tidak ada orang, sendirian dan hanya saya yang ada di jalan itu," tutur Cak Mus.
Bertemu Penggerak dan Komunitas Permainan Tradisional
![Mustofa Sam, Touring Seorang Diri Keliling Jawa Kenalkan Permainan Tradisional]()
Di setiap kota yang disinggahi, ia bertemu para pegiat permainan tradisional lain. Lalu bersama kawan pegiatnya ia mencari anak-anak di kota itu untuk diajak bermain permainan tradisional.
Misalnya saat di Bojonegoro, Cak Mus bertemu Agung Ridwan, seorang penyandang disleksia yang punya karya di bidang pendidikan yaitu Perpustakaan Semangat Muda (GatDa) dan Les Bayar Sampah (Basa).
Lalu perjalanan dilanjutkan menuju Cepu dengan tujuan Taman Budaya Cethik Geni yaitu rumah kayu tempat mempelajari budaya nusantara.
"Di sana saya bertemu dengan anak-anak yang sedang asyik membaca dan mempelajari budaya, khususnya tentang tari. Bahkan, ketika saya datang kesana disambut dengan tarian. Seru ! Asli ! Mengesankan banget," tutur Cak Mus.
Kemudian ketika tiba di Karawang, Cak Mus menuju Situ Cipule dan bertemu dengan Komunitas Anak Lembur Indonesia (KALI) Nihayatul Amal.
"Disini saya diberi permainan tradisional keren yang terbuat dari bambu dan karet ban, selain itu juga ada pletokan atau bebhedilan, ada juga pesawat-pesawatan dan biji yang dibuat main pecah biji," katanya.
Dari Karawang, Cak Mus bertolak ke Jakarta untuk menghadiri peluncuran Pancamain Indonesia bersama para pegiat permainan tradisional se-Indonesia. Pancamain merupakan sarana belajar menanamkan nilai-nilai Pancasila dalam bentuk lima permainan rakyat dan olahraga tradisional Indonesia. Sebuah kolaborasi antara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dengan Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Pusat, dimana Cak Mus merupakan salah satu pengurusnya.
(jqf)