LANGIT7.ID, Jakarta - Ketua Komisi Perempuan, Remaja dan Keluarga (KPRK) MUI, Siti Ma’rifah, menilai penggunaan gawai di era digital 4,0 tidak lagi bisa dihindari. Oleh karena itu, segala bentuk perkembangan teknologi harus disikapi dengan bijak.
Menurut Siti Ma’rifah, digitalisasi memang memiliki manfaat, tapi di sisi lain semua informasi baik dan buruk bisa tersaji hanya dengan sentuhan tangan melalui gawai. Hal ini merupakan efek era keterbukaan informasi saat ini.
“KPRK MUI memandang perlunya perlindungan anak terhadap bahayanya penggunaan gawai agar bagaimana tontonan bisa menjadi tuntutan,” kata Siti Ma’rifah dalam Workshop
Bijak Menggunakan Gadget Sejak Dini di Era Digital di Gedung MUI, Jakarta, dikutip Rabu (15/2/2023).
Baca Juga: Pakar: Lato-Lato Bisa Kurangi Ketergantungan Anak Main HPAnak harus dicegah dari pengaruh negatif gawai karena banyak mengandung konten-konten berbau pornografi, kekerasan, hingga hoaks. Hal tersebut sangat berbahaya bagi generasi mendatang.
Berdasarkan data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KAPI), 79% orang tua mengizinkan kepada anaknya untuk menggunakan gawai selain untuk keperluan belajar. Hanya 21 persen orang tua yang melarang penggunaan gadget kecuali untuk belajar.
Sementara, catatan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) tentang dampak gadget menunjukkan jumlah kasus kekerasan berbasis gender
online (KBGO) di ranah publik mencapai 69 persen.
Baca Juga: Cara Efektif Kurangi Kecanduan Anak pada Gadget, Ini Kata Pakar“Dari total pengaduan ke Komnas Perempuan, dan laporan tersebut sangat terbantu dengan dimulainya gerakan
dare to speak up, melaporkan kekerasan pada perempuan dan anak di ruang publik maupun virtual,” ujar dia.
Direktur Eksekutif ICT Watch, Indriyatno Banyumurti, mengatakan, pengawasan orang tua menjadi salah satu solusi mencegah terjadinya kecanduan gawai pada anak. Orang tua yang mengambil jarak dengan teknologi merupakan pemicu lahirnya ancaman bagi anak terpapar dampak negatif teknologi.
“Tantangan orang tua masa sekarang, kadang mereka kurang berminat belajar tentang teknologi. Akhirnya, anak-anak secara bebas mengeksplorasi segala yang ingin mereka ketahui tanpa adanya pengawasan,” ujar Indriyatno.
Baca Juga: Tips Ainun Najib Hindarkan Anak dari Dampak Negatif GadgetTanpa adanya minat orang tua untuk bersama-sama belajar teknologi, akan sulit menciptakan ruang aman di dunia maya bagi anak. Maka itu, orang tua seharusnya tidak gaptek (gagap teknologi).
“Pemikiran seperti ini yang harus kita ubah, sebab pendidikan karakter anak dibentuk pertama kali oleh keluarga. Meskipun kita tidak bisa mengawasi anak selama 24 jam, setidaknya dalam perkembangan awal mereka menggunakan teknologi dibersamai oleh pengawasan kita selaku orang tua,” ujarnya.
(jqf)