Kisah Nabi Adam di Surga dan Pelajaran Larangan Pohon Terlarang
Ahmad zuhdi
Sabtu, 05 September 2026 - 06:10 WIB
Kisah Nabi Adam di Surga dan Pelajaran Larangan Pohon Terlarang
Ayat ke-35 Surat Al-Baqarah memegang peranan penting dalam kisah penciptaan manusia. Rangkaian firman ini merupakan kelanjutan langsung dari pemberitahuan Allah ﷻ kepada para malaikat mengenai rencana pengangkatan khalifah di bumi, yang disusul perintah sujud kepada Adam.
Setelah Iblis membangkang dan menolak perintah tersebut, Allah ﷻ melimpahkan kemuliaan besar kepada Adam dengan mengizinkannya menempati surga bersama Hawa. Di sana, mereka diperkenankan menikmati segala kenikmatan, namun diberikan satu batas ujian: larangan mendekati sebuah pohon tertentu.
Dalam penafsirannya, Imam al-Ṭabarī menegaskan bahwa ayat ini menjadi bukti kuat bahwa Iblis telah diusir dari surga sesaat setelah menyombongkan diri dan menolak sujud. Adam baru diperintahkan untuk menghuni surga setelah kepindahan Iblis tersebut, sebelum akhirnya peristiwa penurunan manusia ke bumi terjadi. Peristiwa ini mencatatkan titik tolak ujian pertama bagi umat manusia sekaligus memperlihatkan kemurahan dan kelembutan Allah ﷻ kepada sang khalifah pertama.
Menurut analisis Syekh al-Shanqīṭī, redaksi firman Allah ﷻ pada ayat ini menunjukkan penjelas bahwasanya Allah berkomunikasi secara langsung dengan Adam tanpa melalui perantara malaikat. Keistimewaan dialog langsung ini mirip dengan kemuliaan yang diterima oleh Nabi Musa ﷺ di kemudian hari.
Sementara itu, Imam al-Baghawī merincikan latar belakang penciptaan Hawa. Saat berada di surga, Adam belum memiliki pasangan yang sejenis darinya. Allah ﷻ kemudian membuatnya tertidur lalu menciptakan Hawa dari tulang rusuk pendek di sisi kirinya tanpa menimbulkan rasa sakit sedikit pun.
Proses penciptaan tanpa rasa sakit ini mengandung hikmah mendalam, yakni agar tercipta rasa kasih sayang dan kelembutan seorang suami terhadap istrinya. Ketika terbangun dan melihat sosok Hawa yang anggun di sampingnya, Adam bertanya mengenai identitasnya. Hawa menjawab bahwa ia diciptakan sebagai istri agar mereka saling menemukan ketenangan satu sama lain.
Silang Pendapat Terkait Lokasi Surga dan Jenis Pohon
Setelah Iblis membangkang dan menolak perintah tersebut, Allah ﷻ melimpahkan kemuliaan besar kepada Adam dengan mengizinkannya menempati surga bersama Hawa. Di sana, mereka diperkenankan menikmati segala kenikmatan, namun diberikan satu batas ujian: larangan mendekati sebuah pohon tertentu.
Dalam penafsirannya, Imam al-Ṭabarī menegaskan bahwa ayat ini menjadi bukti kuat bahwa Iblis telah diusir dari surga sesaat setelah menyombongkan diri dan menolak sujud. Adam baru diperintahkan untuk menghuni surga setelah kepindahan Iblis tersebut, sebelum akhirnya peristiwa penurunan manusia ke bumi terjadi. Peristiwa ini mencatatkan titik tolak ujian pertama bagi umat manusia sekaligus memperlihatkan kemurahan dan kelembutan Allah ﷻ kepada sang khalifah pertama.
Menurut analisis Syekh al-Shanqīṭī, redaksi firman Allah ﷻ pada ayat ini menunjukkan penjelas bahwasanya Allah berkomunikasi secara langsung dengan Adam tanpa melalui perantara malaikat. Keistimewaan dialog langsung ini mirip dengan kemuliaan yang diterima oleh Nabi Musa ﷺ di kemudian hari.
Sementara itu, Imam al-Baghawī merincikan latar belakang penciptaan Hawa. Saat berada di surga, Adam belum memiliki pasangan yang sejenis darinya. Allah ﷻ kemudian membuatnya tertidur lalu menciptakan Hawa dari tulang rusuk pendek di sisi kirinya tanpa menimbulkan rasa sakit sedikit pun.
Proses penciptaan tanpa rasa sakit ini mengandung hikmah mendalam, yakni agar tercipta rasa kasih sayang dan kelembutan seorang suami terhadap istrinya. Ketika terbangun dan melihat sosok Hawa yang anggun di sampingnya, Adam bertanya mengenai identitasnya. Hawa menjawab bahwa ia diciptakan sebagai istri agar mereka saling menemukan ketenangan satu sama lain.
Silang Pendapat Terkait Lokasi Surga dan Jenis Pohon