Webinar LANGIT7.ID: Dua Tantangan Utama Pesantren di Era Digital, Santri Pasti Bisa
Ahmad zuhdi
Rabu, 27 Oktober 2021 - 13:11 WIB
Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Jafar Al-Hadar (kanan) saat tampil di Webinar Langit7.id Rabu (27/10).
Menghadapi era digitalisasi dan bonus demografi, para santri dan pesantren dihadapkan pada dua tantangan utama, yaitu tantangan infrastruktur dan tantangan suprastruktur.
Hal itu dikatakan Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Ja’far Al-Hadar dalam webinar LANGIT7 bertajuk 'Pesantren Goes Digital, Sebuah Keharusan', Rabu (27/10).
"Di tengah era digitalisasi ini, penting bagaimana pesantren menyiapkan infrastruktur, baik di lingkungan pesantren ataupun luar pesantren kepada alumninya. Pesantren harus mempunyai perangkat software dan hardware," kata Husein.
"Saya pernah mengusulkan agar satu pesantren paling tidak mempunyai satu studio dan satu channel kanal youtube. Pesantren harus merespon itu dengan membuka ruang bagi santrinya sejak dini dengan peralatan studio, sehingga ketika mereka keluar (lulus) tidak lagi meraba dakwah digitalnya harus seperti apa," sambungnya.
Baca juga:Webinar LANGIT7.ID: Kesadaran Digital Harus Ditangkap Santri dan Pesantren
Namun, kata dia, internal lingkungan pesantren juga memiliki aturan yang ketat. Misalnya, apakah santri dibolehkan memegang gawai, apakah Wifi boleh masuk pesantren dan dapat diakses oleh seluruh santri, dan lain sebagainya.
"Sebab banyak petinggi pesantren menganggap ini sesuatu yang buruk, sehingga akan dihindari masuknya internet ke pesantren. Seharusnya menurut saya ini perlu ada diskursus dan dialektika, sehingga tidak gagal dalam memahami era digital," ujarnya.
Hal itu dikatakan Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Ja’far Al-Hadar dalam webinar LANGIT7 bertajuk 'Pesantren Goes Digital, Sebuah Keharusan', Rabu (27/10).
"Di tengah era digitalisasi ini, penting bagaimana pesantren menyiapkan infrastruktur, baik di lingkungan pesantren ataupun luar pesantren kepada alumninya. Pesantren harus mempunyai perangkat software dan hardware," kata Husein.
"Saya pernah mengusulkan agar satu pesantren paling tidak mempunyai satu studio dan satu channel kanal youtube. Pesantren harus merespon itu dengan membuka ruang bagi santrinya sejak dini dengan peralatan studio, sehingga ketika mereka keluar (lulus) tidak lagi meraba dakwah digitalnya harus seperti apa," sambungnya.
Baca juga:Webinar LANGIT7.ID: Kesadaran Digital Harus Ditangkap Santri dan Pesantren
Namun, kata dia, internal lingkungan pesantren juga memiliki aturan yang ketat. Misalnya, apakah santri dibolehkan memegang gawai, apakah Wifi boleh masuk pesantren dan dapat diakses oleh seluruh santri, dan lain sebagainya.
"Sebab banyak petinggi pesantren menganggap ini sesuatu yang buruk, sehingga akan dihindari masuknya internet ke pesantren. Seharusnya menurut saya ini perlu ada diskursus dan dialektika, sehingga tidak gagal dalam memahami era digital," ujarnya.