LANGIT7.ID, Jakarta - Menghadapi era digitalisasi dan bonus demografi, para santri dan pesantren dihadapkan pada dua tantangan utama, yaitu tantangan infrastruktur dan tantangan suprastruktur.
Hal itu dikatakan Direktur Akademi Kebudayaan Islam Jakarta, Husein Ja’far Al-Hadar dalam webinar LANGIT7 bertajuk 'Pesantren Goes Digital, Sebuah Keharusan', Rabu (27/10).
"Di tengah era digitalisasi ini, penting bagaimana pesantren menyiapkan infrastruktur, baik di lingkungan pesantren ataupun luar pesantren kepada alumninya. Pesantren harus mempunyai perangkat software dan hardware," kata Husein.
"Saya pernah mengusulkan agar satu pesantren paling tidak mempunyai satu studio dan satu channel kanal youtube. Pesantren harus merespon itu dengan membuka ruang bagi santrinya sejak dini dengan peralatan studio, sehingga ketika mereka keluar (lulus) tidak lagi meraba dakwah digitalnya harus seperti apa," sambungnya.
Baca juga:
Webinar LANGIT7.ID: Kesadaran Digital Harus Ditangkap Santri dan PesantrenNamun, kata dia, internal lingkungan pesantren juga memiliki aturan yang ketat. Misalnya, apakah santri dibolehkan memegang gawai, apakah Wifi boleh masuk pesantren dan dapat diakses oleh seluruh santri, dan lain sebagainya.
"Sebab banyak petinggi pesantren menganggap ini sesuatu yang buruk, sehingga akan dihindari masuknya internet ke pesantren. Seharusnya menurut saya ini perlu ada diskursus dan dialektika, sehingga tidak gagal dalam memahami era digital," ujarnya.
"Karena menurut saya tipologi ulama ada tiga. Kalau dulu ada khutabi, yaitu mereka yang dakwah atau khutbah dengan lisan; kemudian kutubi, yaitu berdakwah melalui tulisan; dan sekarang yutubi yang berdakwah melalui youtube," lanjutnya.
Mengenai tantangan suprastruktur, ia menyebutkan bahwa infrastruktur merupakan suatu yang penting, tetapi pembangunan manusia juga tak kalah penting. Pesantren dapat merespon kecakapan digital dengan empat hal.
Pertama, bagaimana membangun kreativitas di kalangan para santri dan alumni pesantren, termasuk juga oleh kyainya. Menurut dia, ini penting digalakkan karena menumbuhkan dai yutubi sangat kesulitan dalam aspek kreativitas.
Baca juga:
Pesantren Goes Digital, Kemenag: Ini Suatu Keniscayaan"Mereka hapal Alquran, hafal kitab kuning, dan hafal teks-teks yang digunakan untuk berceramah, tapi mereka tidak memiliki kecakapan digital, kecakapan kreativitas, dan kecakapan konteks. Sehingga video-video yang diproduksi banyak sekali, tetapi penontonnya sedikit, kenapa karena mereka tidak mampu memahami konteks digital dan kreativitas," katanya.
Dia menuding mereka hanya bisa menghadirkan tuntunan, tetapi tidak bisa menghadirkan tontonan. Padahal di era digital, kualitas ceramah bukan hanya menjadi tuntunan, tetapi juga tontonan. Dalam bahasa antropologisnya, ia menyebut sebagai dakwahtaiment, yaitu dakwah yang bernilai entertainment.
"Karena kalau tidak begitu, nggak akan pernah berhasil. Santri dan kyai akan sulit menghadirkan ini, karena itu perlu didorong kolaborasi denganlembaga digital yang memadai," kata dia.
Ia menyebut contoh yang baik dalam hal ini adalah Gus Baha, yaitu memadukan antara teks dengan santri yang mempunyai konteks atau kreativitas di bidang digital. Mereka membuat suatu kolaborasi dan capaian yang bagus.
Tantangan suprastruktur kedua adalah konektivitas, bagaimana ketersambungan antara yang daring dengan luring tidak sampai putus. Pesantren harus menciptakan kurikulum yang terintegrasi antara yang daring dan luring.
"Jadi bukan dua hal yang berjalan sendiri-sendiri, karena kalau begitu pembangunannya akan lama karena harus membangun dari dasar lagi, tapi kalau dikolaborasikan akan sangat mudah dan cepat," ucapnya.
Baca juga:
Webinar LANGIT7.ID: Membangkitkan Peran Santri di Era DigitalKetiga membangun jaringan website untuk meudahkan komunikasi antara kyai, santri, alumni pesantren, keluarga santri, dan sebagainya. "Saya rasa itu penting bahkan sampai tahap membangun holding yang bisa digunakan untuk memaksimalkan kegiatan ekonomi digital dan sebagainya," katanya.
Terakhir adalah tantangan kualitas, ada pertanyaan santri digital punya sanad atau tidak? Menurut dia, kalau orang-orang digital tidak bisa meyakinkan mereka, maka sampai kapanpun tidak akan pernah sukses rencana dan programnya. Kalau mereka tidak diyakinkan secara kultural maka akan sulit berkembang, maka bisa jadi minimal menutup diri, dan maksimal mereka menyerang inovasi ini.
"Pada akhirnya penting membangun kesadaran digital kepada pesantren, kyai, dan santri sehingga perkembangan digital di Indonesia atau masyarakat dunia pada track yang postif. Karena kita berada di era peralihan, maka tugas orang ketika di peralihan adalah menangkap norma digital," katanya.
"Ini yang menjadi jihad digital, bagaimana pesantren memastikan perkembangan digital ini tidak bertentangan dengan nilai-nilai adab, nilai-nilai kemanusiaan, dan kecintaan pada Islam, sehingga perkembangan ini berdampak positif pada kehidupan kita," sambungnya.
(sof)