Intelektual Muda Ustadz Wildan Hasan Terbitkan Buku Menafsir Natsir
Ahmad zuhdi
Kamis, 28 Oktober 2021 - 15:50 WIB
Buku Ustadz Wildan Hasan. (Foto: Istimewa).
Sekitar abad 10 Masehi di Jepang, Orang-orang sukses biasanya tetap menjaga sejarah hidupnya dengan menulis jurnal atau buku harian. Menulis merupakan legacy (warisan) ilmu yang dapat dilestarikan dan dirasakan manfaatnya tanpa termakan oleh ruang dan waktu.
Menulis juga memiliki dampak yang baik terhadap kesehatan. Di antara manfaat tersebut, yaitu meningkatkan kesehatan fisik, mengurangi stres, memecahkan masalah secara efektif, menjadikan diri lebih atraktif, menemukan tujuan hidup, dan mengatur emosi lebih baik.
Selain itu, menulis juga dapat mengurangi kesalahan dalam penulisan, menghilangkan efek trauma, dan meningkatkan kualitas hidup. Dengan menulis, berarti kita juga sedang melakukan investasi kebaikan yang tak lekang oleh zaman dan generasi.
Seorang dai (juru dakwah) tak hanya dituntut untuk dapat berdakwah melalui lisan atau verbal, tetapi juga tulisan agar dapat dirasakan oleh masyarakat luas di berbagai penjuru. Seperti yang dilakukan oleh intelektual muda Ustadz Wildan Hasan. Dalam buku terbarunya, ia menulis buku berjudul "Menafsir Natsir; Kontekstualisasi Pemikiran Mohammad Natsir dalam Wacana dan Gerakan Kontemporer.
Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Kota Bekasi ini telah menuliskan 10 buku lebih dan artikel yang tersebar luas di berbagai platform, baik media cetak, media sosial, blog, dan website. Di antara buku yang ia tuliskan, yaitu 'Bawalah Facebookmu Ke Surga', buku 'Risalah Pendidikan Islam', buku 'Total Ramadhan', buku 'Berkatalah yang Baik Atau Diam', buku 'Aku, HP, dan Al Qur’an', buku 'H. Sjaifullah, MM: Menggapai Keberkahan Hidup dalam Ridho Ilahi, buku 'Risalah Pemikiran Pemuda Dewan Dakwah, dkk' buku 'Risalah Perang panjang', buku 'Menuju 1 Abad Persatuan Islam, dkk', buku 'Persis nu Ana', dan buku 'Biografi Mohammad Natsir, dkk'.
Pengurus Lembaga Dakwah Khusus (LDK) MUI Pusat ini menempuh pendidikan dasar di SDN I Sindanghaji Majalengka dan lulus tahun 1992, ia kemudian melanjutkan jenjang MTs di PERSIS Majalengka dan tamat tahun 1996, selanjutnya Aliyah/Muallimin PERSIS Garut dan lulus pada 1999. Ustaz Wildan kemudian melanjutkan S1 Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir Jakarta dan lulus pada tahun 2005, kemudian Pasca-sarjana S2 bidang Pendidikan dan Pemikiran Islam UIKA Bogor, dan saat ini sedang menempuh Pasca-sarjana S3 Program Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Jakarta.
Kepada LANGIT7, ustaz Wildan mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah meniatkan diri untuk produktif menulis. Tulisan yang dihimpun ke dalam sebuah buku merupakan respon dia terhadap situasi dan kondisi yang terus berkembang.
Menulis juga memiliki dampak yang baik terhadap kesehatan. Di antara manfaat tersebut, yaitu meningkatkan kesehatan fisik, mengurangi stres, memecahkan masalah secara efektif, menjadikan diri lebih atraktif, menemukan tujuan hidup, dan mengatur emosi lebih baik.
Selain itu, menulis juga dapat mengurangi kesalahan dalam penulisan, menghilangkan efek trauma, dan meningkatkan kualitas hidup. Dengan menulis, berarti kita juga sedang melakukan investasi kebaikan yang tak lekang oleh zaman dan generasi.
Seorang dai (juru dakwah) tak hanya dituntut untuk dapat berdakwah melalui lisan atau verbal, tetapi juga tulisan agar dapat dirasakan oleh masyarakat luas di berbagai penjuru. Seperti yang dilakukan oleh intelektual muda Ustadz Wildan Hasan. Dalam buku terbarunya, ia menulis buku berjudul "Menafsir Natsir; Kontekstualisasi Pemikiran Mohammad Natsir dalam Wacana dan Gerakan Kontemporer.
Ketua Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Kota Bekasi ini telah menuliskan 10 buku lebih dan artikel yang tersebar luas di berbagai platform, baik media cetak, media sosial, blog, dan website. Di antara buku yang ia tuliskan, yaitu 'Bawalah Facebookmu Ke Surga', buku 'Risalah Pendidikan Islam', buku 'Total Ramadhan', buku 'Berkatalah yang Baik Atau Diam', buku 'Aku, HP, dan Al Qur’an', buku 'H. Sjaifullah, MM: Menggapai Keberkahan Hidup dalam Ridho Ilahi, buku 'Risalah Pemikiran Pemuda Dewan Dakwah, dkk' buku 'Risalah Perang panjang', buku 'Menuju 1 Abad Persatuan Islam, dkk', buku 'Persis nu Ana', dan buku 'Biografi Mohammad Natsir, dkk'.
Pengurus Lembaga Dakwah Khusus (LDK) MUI Pusat ini menempuh pendidikan dasar di SDN I Sindanghaji Majalengka dan lulus tahun 1992, ia kemudian melanjutkan jenjang MTs di PERSIS Majalengka dan tamat tahun 1996, selanjutnya Aliyah/Muallimin PERSIS Garut dan lulus pada 1999. Ustaz Wildan kemudian melanjutkan S1 Sekolah Tinggi Ilmu Da’wah (STID) Mohammad Natsir Jakarta dan lulus pada tahun 2005, kemudian Pasca-sarjana S2 bidang Pendidikan dan Pemikiran Islam UIKA Bogor, dan saat ini sedang menempuh Pasca-sarjana S3 Program Pendidikan Agama Islam di Universitas Islam Jakarta.
Kepada LANGIT7, ustaz Wildan mengungkapkan bahwa dirinya tidak pernah meniatkan diri untuk produktif menulis. Tulisan yang dihimpun ke dalam sebuah buku merupakan respon dia terhadap situasi dan kondisi yang terus berkembang.