home global news

Seorang Muslim Menangi Pilkada Senat Bersejarah, Idealnya Itu Bukan Hal Besar, Tapi Ini Amerika

Sabtu, 07 November 2026 - 08:48 WIB
Abdul El-Sayed menjadi sasaran serangan Islamofobia dalam pemilu AS.
LANGIT7.ID-Michigan; Islamofobia dan kepentingan politik Partai Republik menjadi senjata untuk menyerang latar belakang agama Abdul El-Sayed dalam Pemilu Sela Amerika Serikat.

Namun, serangan tersebut justru memperkuat dukungan terhadap kandidat Muslim itu. Setelah hasil Pemilu Sela Amerika Serikat diketahui, perhatian kini beralih kepada para analis politik yang mengulas faktor kemenangan dan kekalahan para kandidat.

Salah satu pertarungan yang menjadi sorotan adalah pemilihan Senat di Michigan dengan anggaran kampanye mencapai 270 juta dolar AS atau sekitar Rp4,4 triliun. Kontestasi tersebut diwarnai berbagai polemik, terutama pelabelan Abdul El-Sayed sebagai calon Muslim pertama yang berpotensi memenangkan kursi Senat AS.

Label tersebut memang membangkitkan antusiasme pemilih Arab-Amerika dan Muslim-Amerika. Namun, identitas agama El-Sayed juga dimanfaatkan sebagai senjata kampanye oleh Partai Republik. Sejumlah juru kampanye berusaha mengarahkan perhatian publik pada agama El-Sayed. Ia bahkan kerap digambarkan sebagai ekstremis Muslim, sementara dirinya berupaya mengangkat persoalan lain seperti biaya hidup, layanan kesehatan, dan bantuan Amerika Serikat kepada Israel.

Dalam kondisi ideal, terpilihnya seorang Muslim sebagai anggota Kongres AS seharusnya bukan sesuatu yang luar biasa. Hal serupa berlaku bagi kandidat beragama Presbiterian, Katolik, maupun Yahudi. Agama semestinya tidak menjadi faktor penentu dalam memilih pejabat publik. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak Muslim yang berhasil menduduki jabatan publik di berbagai wilayah Amerika Serikat.

Hal ini menunjukkan semakin terbukanya ruang partisipasi politik bagi komunitas Muslim. El-Sayed pun berhasil memenangkan pemilihan meskipun menghadapi berbagai tuduhan. Setelah pemilu sela, tercatat tujuh anggota Kongres Muslim lainnya, termasuk pendatang baru Adam Hamawy, seorang dokter bedah keturunan Mesir-Amerika.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa warga Arab-Amerika dan Muslim-Amerika semakin mendapat ruang dalam kehidupan politik AS. Meski demikian, penolakan terhadap keterlibatan Muslim dalam politik Amerika belum sepenuhnya hilang. Jajak pendapat Gallup pada 2024 menunjukkan 25 persen warga Amerika mengaku tidak akan memilih kandidat Muslim sebagai presiden. Angka tersebut membaik dibandingkan satu dekade sebelumnya, ketika mencapai 38 persen.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya