home edukasi & pesantren

Pendidikan Model Daring Cenderung Bikin Anak Tidak Aktif

Sabtu, 17 Juli 2021 - 02:05 WIB
Ilustrasi kejenuhan anak-anak akibat keseringan sekolah jarak jauh atau daring. Foto: Langit7.id/iStock
Pandemi Covid-19 menghentikan kegiatan pembelajaran tatap muka setahun lebih. Rumah lantas beralih fungsi menjadi sekolah, tidak ada lagi papan tulis berlepotan kapur atau penghapus hitam bekas tinta.

Siswa akan duduk menatap layar gawai mendengar guru menjelaskan dari jarak jauh. Sistem pembelajaran jarak jauh ternyata berpotensi menyebabkan learning loss.

Learning loss merupakan kerugian jangka panjang terhadap pembelajaran anak-anak akibat penutupan sekolah sementara. Peneliti RISE (Research on Improving System of Education) dari praktisi asal Universitas Oxford Michelle Kaffenberger mengatakan, dampak learning loss tidak berhenti meski sekolah dibuka.

Learning loss sangat besar terjadi pada siswa yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Kemampuan siswa kelas 3 SD yang melewatkan waktu belajar selamaenam bulan berpotensi tertinggal 1,5 tahun. Sisiwa 1 SD akan mengalami ketertinggalan hingga 2,2 tahun. Michelle Kaffenberger menyebut, learning loss akan berdampak panjang sehingga menyebabkan masalah ekonomi dan sosial di masa depan.

Hal serupa disampaikan Editor in Chief Nakita.id David Togatorop, dalam kolaborasi Sonora dengan Nakita.id dalam Sonora Parenting. Ada dua dampak besar jika learning loss tidak segera diatasi dengan baik.

1. Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana

David mengatakan, Indonesia tengah menantikan kejadian bonus demografi. Bonus demografi adalah sebuah kondisi tenaga usia produktif akan lebih banyak dari pada nonproduktif. Jika sebuah negara bisa memanfaatkan potensi tersebut dengan baik, maka akan sangat membantu dalam hal kemajuan dan kemakmuran.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pendidikan anak pendidikan tips edukasi david togatorop pendidikan jarak jauh
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya