LANGIT7.ID, Jakarta - Pandemi Covid-19 menghentikan kegiatan pembelajaran tatap muka setahun lebih. Rumah lantas beralih fungsi menjadi sekolah, tidak ada lagi papan tulis berlepotan kapur atau penghapus hitam bekas tinta.
Siswa akan duduk menatap layar gawai mendengar guru menjelaskan dari jarak jauh. Sistem pembelajaran jarak jauh ternyata berpotensi menyebabkan
learning loss.
Learning loss merupakan kerugian jangka panjang terhadap pembelajaran anak-anak akibat penutupan sekolah sementara. Peneliti RISE (
Research on Improving System of Education) dari praktisi asal Universitas Oxford Michelle Kaffenberger mengatakan, dampak
learning loss tidak berhenti meski sekolah dibuka.
Learning loss sangat besar terjadi pada siswa yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD). Kemampuan siswa kelas 3 SD yang melewatkan waktu belajar selama enam bulan berpotensi tertinggal 1,5 tahun. Sisiwa 1 SD akan mengalami ketertinggalan hingga 2,2 tahun. Michelle Kaffenberger menyebut,
learning loss akan berdampak panjang sehingga menyebabkan masalah ekonomi dan sosial di masa depan.
Hal serupa disampaikan Editor in Chief Nakita.id David Togatorop, dalam kolaborasi Sonora dengan Nakita.id dalam Sonora Parenting. Ada dua dampak besar jika
learning loss tidak segera diatasi dengan baik.
1. Bonus Demografi Bisa Jadi BencanaDavid mengatakan, Indonesia tengah menantikan kejadian bonus demografi. Bonus demografi adalah sebuah kondisi tenaga usia produktif akan lebih banyak dari pada nonproduktif. Jika sebuah negara bisa memanfaatkan potensi tersebut dengan baik, maka akan sangat membantu dalam hal kemajuan dan kemakmuran.
"Ketika kelak bonus demografi itu sekarang mengalami
learning loss, kita tidak akan menikmati itu. Bahkan akan terbalik, jika tidak diatasi, 15 tahun ke depan negara ini akan diisi generasi penerus yang tidak berkualitas," kata David dalam tayangan Youtube Sorona FM, dikutip Jumat (16/7/2021)
Learning loss akan membuat anak memiliki karakter tidak baik. Jika tidak diawasi dengan baik oleh orang tua, bisa saja mereka kehilangan integritas seperti kejujuran. Dalam banyak kasus, tugas sekolah dikerjakan dengan memplagiat dari internet. Itu sudah pasti menunrunkan motivasi belajar anak.
2. Perkembangan Motorik Anak TerpengaruhPerkembangan motorik adalah proses tumbuh kembang kemampuan gerak seorang anak. Pada dasarnya, perkembangan ini berkembang sejalan dengan kematangan saraf dan otot anak. Namun, selama pembelajaran jarak jauh via daring, anak cenderung tidak aktif bergerak. Waktu lebih banyak habis di depan gawai. Kadang pula mengurung diri dalam kamar karena bosan.
"Di rumah memang bisa bermain, tapi tidak semaksimal ketika dia bermain di tempat luas,tidak sama ketika ikut pramuka, karena itu kemampuan motoriknya akan sangat terpengaruh. Memang mereka diberi tugas olahraga, tapi kan lewat vidio. Jadi tidak efektif. Ini sangat berbahaya, jika terus terjadi, karena emosi anak-anak menjadi tidak stabil, dan itu akan membuat tingkat stres semakin tinggi," kata David.
(asf)