home global news

Waspadai Propaganda Radikalisme, Bijaklah Bermedsos

Ahad, 07 November 2021 - 22:41 WIB
Pembicara webinar moderasi beragama Pengaruh Media Sosial dalam Penyebaran Radikalisme di era Pandemi Covid-19. Foto : Istimewa
Saat ini media sosial sudah mengalami pergeseran fungsi, semula sebagai ruang publik untuk menyampaikan pendapat, kini bergeser menjadi perang ideologi. Baik itu dialog antarkomunitas dan masyarakat atau masyarakat dengan pemerintah sehingga dapat menghadirkan situasi yang demokratis, dan transparansi.

“Namun yang terjadi akhir-akhir ini malah sebaliknya. Media sosia menjadi ajang perang kepentingan idiologi, politik, ekonomi, dan berebut pengaruh di media sosial ,” kata Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PCNU Kota Semarang Agus Khunaifi dalam webinar moderasi beragama “Pengaruh Media Sosial dalam Penyebaran Radikalisme di era Pandemi Covid-19”, Sabtu (6/11).

Baca juga: Jangan Sembarang Sebar Foto Korban Kecelakaan di Media Sosial

Menurut Agus, medsos menjadi sangat kejam apabila digunakan untuk kepentingan dan klaim tanpa didasari dengan literasi yang mumpuni. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama, karena ruang media karakternya tidak berstandar, sehingga sangat bebas dan tidak terbatas semua orang, tidak memandang dari pendidikan dan keahlian. Ia bisa berkata apa saja dan bisa berekspresi sedemikian rupa.

“Dalam perjalanannya media sosiall ini harus dipahami karakternya. Media atau instrumen yang sifatnya bebas tidak memandang dari background pendidikan dan bidangnya. Boleh menulis apapun tidak ada standar etika jurnalistik, dan batasan. Semua orang boleh berpendapat dan menulis,” ucapnya di lansir dari NU Online Jateng Minggu (7/11).

Lebih tegas lagi ia menyebut bahwa medsos telah menyebabkan matinya kepakaran (post truth). Karena semua orang yang berargumen di medsos belum tentu ahli di bidangnya. Bahkan kasus seperti ini menghebohkan dunia maya. Masyarakat menganggap medsos adalah rujukan dan konsumsi sehari-hari, oleh karena itu sangat mudah mempengaruhi masyarakat.

“Bukan berarti semua yang menulis di sana orang hebat dan tulisannya harus dipercaya semuanya. Harus difilter, karen media sosial itu rujukan atau konsumsi utama masyarakat. Nah, kalau dari awal sudah tidak beres, ini bahaya” ujarnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
media sosial adab bermedsos radikalisme
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya