Hari Pahlawan
Mengenal Karakter Para Pahlawan Islam Penjaga Gawang Keutuhan NKRI
Muhajirin
Rabu, 10 November 2021 - 22:54 WIB
Para Pahlawan Islam di sampul Buku Utang Republik pada Islam (Dok Al Kautsar)
Penulis buku Utang Republikpada Islam, Lukman Hakiem, mengingatkan, keberadaan Republik Indonesia tidak bisa dilepaskan dari peranan tokoh-tokoh Islam. Mereka bergerak dengan semangat jihad melawan segala bentuk penjajahan di bumi nusantara.
“Ketika ada anak bangsa yang mempermasalahkan jenggot, saya ingin ingatkan bahwa di antara 3 perumus teks proklamasi ada seorang bernama Ahmad Soebardjo Joyo Adi Suryo, orang Aceh, keturunan Aceh terdampar di Karawang dan tinggal di Karawang, nama aslinya Tengku Abdul Manaf,” kata Lukman Hakim dalam webinar Utang Republik untuk Islam melalui kanal youtube Pustaka Al-Kautsar, dikutip Rabu (10/11/2021).
Tengku Abdul Manaf berganti nama menjadi Ahmad Subarjo atas saran pamannya. Dia disarankan memakai nama Jawa jika ingin berkiprah ke ranah nasional. “Beliau ini berjanggut. Padahal bukan lulusan Timur Tengah, tidak pernah ngaji di pesantren salaf, beliau lulusan Belanda,” ucap Lukman Hakim.
Peristiwa perumusan naskah proklamasi merupakan peristiwa bersejarah dalam tonggak perjalanan bangsa Indonesia. Sehingga, dalam perumusan diisi tokoh-tokoh golongan muda dan golongan tua. Selain nama Ahmad Subarjo, ada pula Teuku Mohammad Hasan (anggota PPKI) dan Burhanuddin Mohammad Diah (pemuda wartawan).
Baca Juga:Detik-detik Pertempuran 10 November di Surabaya, Dari Ultimatum Sekutu Hingga Resolusi Jihad
Tiga tokoh itu berperan penting dengan cara mereka masing-masing dalam proses perumusan naskah proklamasi. Ahmad Subarjo berperan sebagai perumus naskah bersama Soekarno dan Muhammad Hatta, BM Diah mendampingi Sayuti Melik ketika mengetik naskah proklamasi, dan Teuku Mohammad Hatta memberikan saran tentang siapa tokoh yang dirasa pantas menandatangani naskah bersejarah itu.
Selain tokoh-tokoh itu, ada pula Prawoto Mangkusasmito, seorang aktivis muslim yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia kesembilan dan Ketua Umum Majelis Syuro Muslim Indonesia yang terakhir.
“Ketika ada anak bangsa yang mempermasalahkan jenggot, saya ingin ingatkan bahwa di antara 3 perumus teks proklamasi ada seorang bernama Ahmad Soebardjo Joyo Adi Suryo, orang Aceh, keturunan Aceh terdampar di Karawang dan tinggal di Karawang, nama aslinya Tengku Abdul Manaf,” kata Lukman Hakim dalam webinar Utang Republik untuk Islam melalui kanal youtube Pustaka Al-Kautsar, dikutip Rabu (10/11/2021).
Tengku Abdul Manaf berganti nama menjadi Ahmad Subarjo atas saran pamannya. Dia disarankan memakai nama Jawa jika ingin berkiprah ke ranah nasional. “Beliau ini berjanggut. Padahal bukan lulusan Timur Tengah, tidak pernah ngaji di pesantren salaf, beliau lulusan Belanda,” ucap Lukman Hakim.
Peristiwa perumusan naskah proklamasi merupakan peristiwa bersejarah dalam tonggak perjalanan bangsa Indonesia. Sehingga, dalam perumusan diisi tokoh-tokoh golongan muda dan golongan tua. Selain nama Ahmad Subarjo, ada pula Teuku Mohammad Hasan (anggota PPKI) dan Burhanuddin Mohammad Diah (pemuda wartawan).
Baca Juga:Detik-detik Pertempuran 10 November di Surabaya, Dari Ultimatum Sekutu Hingga Resolusi Jihad
Tiga tokoh itu berperan penting dengan cara mereka masing-masing dalam proses perumusan naskah proklamasi. Ahmad Subarjo berperan sebagai perumus naskah bersama Soekarno dan Muhammad Hatta, BM Diah mendampingi Sayuti Melik ketika mengetik naskah proklamasi, dan Teuku Mohammad Hatta memberikan saran tentang siapa tokoh yang dirasa pantas menandatangani naskah bersejarah itu.
Selain tokoh-tokoh itu, ada pula Prawoto Mangkusasmito, seorang aktivis muslim yang pernah menjabat sebagai Wakil Perdana Menteri Indonesia kesembilan dan Ketua Umum Majelis Syuro Muslim Indonesia yang terakhir.