Kisah Pahlawan Nasional
Lafran Pane, Kader Muhammadiyah Pendiri HMI yang Tak Punya Rumah
Muhajirin
Kamis, 11 November 2021 - 19:42 WIB
Lafran Pane muda (foto: istimewa)
Lafran Pane dianugerahi Pahlawan Nasional oleh Presiden Joko Widodo pada November 2017. Nama Lafran Pane sangat populer bagi kalangan kaum terpelajar terutama Muhammadiyah dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Lafran Pane merupakan santri di pesantren Muhammadiyah di Sipirok. Setelah jadi alumni pun, ia melanjutkan pendidikan di sekolah-sekolah organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu. Di sisi lain, dia sangat populer karena menekuni dunia sastra, dunia publikasi karya-karya kreatifnya.
Pria kelahiran 5 Februari 1922 ini memilih perjuangan melalui jalur politik nasional untuk membela Negara Republik Indonesia yang baru berdiri. Pada awal 1946, di kota ia menempa diri sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta (kini UII), bersama beberapa temannya, Lafran Pane muda mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Lafran Pane diberi gelar Pahlawan Nasional bukan karena terlibat peperangan saja, namun mendorong pertumbuhan gerakan pemuda di Indonesia melalui HMI.
“Jadi, penyandang gelar Pahlawan Nasional bukan hanya mereka yang berjasa di medan perang saja, tetapi yang juga berjasa di bidang lain yang gaung dan manfaatnya dirasakan secara nasional,” kata mantan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Kamis, 9 November 2017.
Rekam Jejak
Pendidikan formal Lafran di tingkat dasar sebenarnya terputus-putus. Dia sering pindah sekolah. Namun satu hal yang berkesan dari sosok beliau, ia tak pernah melupakan pendidikan agama. Ia merupakan anak keenam dari keluarga Sutan Pangurabaan Pane.
Lafran Pane merupakan santri di pesantren Muhammadiyah di Sipirok. Setelah jadi alumni pun, ia melanjutkan pendidikan di sekolah-sekolah organisasi yang didirikan KH Ahmad Dahlan itu. Di sisi lain, dia sangat populer karena menekuni dunia sastra, dunia publikasi karya-karya kreatifnya.
Pria kelahiran 5 Februari 1922 ini memilih perjuangan melalui jalur politik nasional untuk membela Negara Republik Indonesia yang baru berdiri. Pada awal 1946, di kota ia menempa diri sebagai mahasiswa Sekolah Tinggi Islam (STI) Yogyakarta (kini UII), bersama beberapa temannya, Lafran Pane muda mendirikan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Lafran Pane diberi gelar Pahlawan Nasional bukan karena terlibat peperangan saja, namun mendorong pertumbuhan gerakan pemuda di Indonesia melalui HMI.
“Jadi, penyandang gelar Pahlawan Nasional bukan hanya mereka yang berjasa di medan perang saja, tetapi yang juga berjasa di bidang lain yang gaung dan manfaatnya dirasakan secara nasional,” kata mantan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, Kamis, 9 November 2017.
Rekam Jejak
Pendidikan formal Lafran di tingkat dasar sebenarnya terputus-putus. Dia sering pindah sekolah. Namun satu hal yang berkesan dari sosok beliau, ia tak pernah melupakan pendidikan agama. Ia merupakan anak keenam dari keluarga Sutan Pangurabaan Pane.