Tafsir An Nisa ayat 36: Wajib Berbuat Baik kepada Sesama
Fajar adhitya
Ahad, 21 November 2021 - 14:18 WIB
Sejumlah pasien menjalani perawatan di tenda barak yang dijadikan ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Sardjito, Sleman, DI Yogyakarta, Minggu (4/7/2021). Foto: Antara
Islam mewajibkan pemeluknya untuk menjaga hubungan dan berbuat baik kepada sesama. Hubungan sesama manusia dalam Islam disebut habluminannas.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Habluminannas merupakan sarana terdekat pada diri manusia dalam rangka memperkuat habluminallah (mencari keridahaan Allah).
Firman Allah dalam Surat An Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Arti: "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri."
Baca Juga:Tafsir Al Baqarah 155-157: Kehidupan Manusia Selalu Diliputi Ujian
Dalam ayat tersebut, habluminannas harus dilandasi dengan norma-norma tauhid. Memurnikan ibadah kepada Allah dengan semurni-murninya. Artinya, apapun aktivitas sosial yang bersifat kolektif harus didasari dengan keikhlasan mengharap ridha Allah.
Manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Habluminannas merupakan sarana terdekat pada diri manusia dalam rangka memperkuat habluminallah (mencari keridahaan Allah).
Firman Allah dalam Surat An Nisa ayat 36:
وَاعْبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًا وَّبِذِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنِ وَالْجَارِ ذِى الْقُرْبٰى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْۢبِ وَابْنِ السَّبِيْلِۙ وَمَا مَلَكَتْ اَيْمَانُكُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُوْرًاۙ
Arti: "Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri."
Baca Juga:Tafsir Al Baqarah 155-157: Kehidupan Manusia Selalu Diliputi Ujian
Dalam ayat tersebut, habluminannas harus dilandasi dengan norma-norma tauhid. Memurnikan ibadah kepada Allah dengan semurni-murninya. Artinya, apapun aktivitas sosial yang bersifat kolektif harus didasari dengan keikhlasan mengharap ridha Allah.