Profil Profesor
Prof Al Makin, Santri Kampung Jadi Rektor Muda UIN Sunan Kalijaga
Muhajirin
Selasa, 23 November 2021 - 13:18 WIB
Rektor UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Prof. Dr. Al Makin (foto: uin-malang.ac.id)
Prof Al Makin dilantik sebagai Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta masa jabatan 2020-2024 pada 10 Juli 2020 lalu. Namun siapa sangka, jika beliau merupakan seorang guru besar filsafat yang berlatar belakang santri kampung. Prof Al Makin berasal dari dusun Bendo, Kapas, Bojonegoro.
Pria kelahiran 12 September 1972 itu merupakan putra seorang kiai langgar di Bojonegoro, KH Rohani. Tak heran bila sejak kecil beliau sudah belajar ilmu-ilmu agama di bawah bimbingan sang ayah. Di rumah Al Makin, selepas maghrib ada tradisi mengaji.
Tak hanya Al Makin bersaudara, banyak santri yang datang untuk mengaji kepada KH Rohani. Tidak hanya dari desa yang sama, tapi datang dari daerah yang jauh. KH Rohani memiliki ratusan santri. Pesantren kecil di rumah itu dinamai Pesantren Al-hikmah.
Baca Juga: Perjalanan Kak Seto Jadi Profesor, Mimpi Sejak Tahun 1993
Selain ayah, sang ibu juga memiliki aktivitas lain. Ia membina santri perempuan dengan membentuk grup qasidah modern Al Hikmah. Sang ibu memang seorang aktivis Muslimat Bojonegoro. Semua aktivitas itu membuat kehidupan Al Makin sangat dekat dengan ilmu-ilmu agama.
Saat menginjak usia remaja, Al Makin dikirim ke Pondok Pesantren Adnan Al-Charish, bagian dari Pesantren Abu Dzarrin, Kendal, Bojonegoro, Jawa Timur. Di pondok ini beliau belajar tata bahasa Arab seperti I’lal, jurumiyah, imriti, dan kitab Tafsir Jalalain. Dia juga belajar banyak kitab klasik lain.
Pria kelahiran 12 September 1972 itu merupakan putra seorang kiai langgar di Bojonegoro, KH Rohani. Tak heran bila sejak kecil beliau sudah belajar ilmu-ilmu agama di bawah bimbingan sang ayah. Di rumah Al Makin, selepas maghrib ada tradisi mengaji.
Tak hanya Al Makin bersaudara, banyak santri yang datang untuk mengaji kepada KH Rohani. Tidak hanya dari desa yang sama, tapi datang dari daerah yang jauh. KH Rohani memiliki ratusan santri. Pesantren kecil di rumah itu dinamai Pesantren Al-hikmah.
Baca Juga: Perjalanan Kak Seto Jadi Profesor, Mimpi Sejak Tahun 1993
Selain ayah, sang ibu juga memiliki aktivitas lain. Ia membina santri perempuan dengan membentuk grup qasidah modern Al Hikmah. Sang ibu memang seorang aktivis Muslimat Bojonegoro. Semua aktivitas itu membuat kehidupan Al Makin sangat dekat dengan ilmu-ilmu agama.
Saat menginjak usia remaja, Al Makin dikirim ke Pondok Pesantren Adnan Al-Charish, bagian dari Pesantren Abu Dzarrin, Kendal, Bojonegoro, Jawa Timur. Di pondok ini beliau belajar tata bahasa Arab seperti I’lal, jurumiyah, imriti, dan kitab Tafsir Jalalain. Dia juga belajar banyak kitab klasik lain.