home edukasi & pesantren

Profil Pesantren

Ponpes SPMAA, ‘Kopassus’-nya Santri untuk Layani Umat

Rabu, 24 November 2021 - 16:49 WIB
Santri Pondok Pesantren Sumber Pembinaan Mental Agama Allah (SPMAA) yang berseragam ala taruna Militer (Dok SPMAA)
Sekilas tak ada yang istimewa dari Pondok Pesantren Sumber Pembinaan Mental Agama Allah (SPMAA) yang berpusat di Lamongan. Seperti pesantren pada umumnya, letaknya berada di wilayah pedesaan. Namun ketika sudah masuk ke dalam pesantren di Desa Turi, Kecamatan Turi Kabupaten Lamongan ini, kita tidak akan menemukan santri bersarung seperti santri pada umumnya. Seragam yang dikenakan santri malah lebih mirip taruna militer atau taruna sekolah kedinasan ketimbang pakaian seorang santri.

Pengasuh Ponpes SPMAA, Gus Khosyi’in Kocoworo Brenggolo mengungkapkan bahwa seragam santri sengaja didesain seperti taruna untuk mengangkat citra santri dan pesantren yang biasa dipandang sebelah mata.

“Santri itu kelak harus jadi pemimpin bangsa, maka harus dikondisikan mulai sekarang lewat pakaian yang membanggakan. Penampilan seperti taruna militer juga disengaja agar para santri sadar bahwa mereka adalah tentaranya Allah,” ungkap Gus Khosyi’in saat ditemui LANGIT7.ID, Senin (22/11/2021).

Militansi santri SPMAA tidak hanya ada pada seragamnya, namun pada pendidikan di pesantren serta pengabdiannya. Gus Khosyi’in menuturkan para santri dididik untuk menjadi TPU (Tenaga Pelayan Umat) untuk mengabdi di seluruh daerah di Indonesia.

Setelah menempuh pendidikan di level sekolah menengah yakni Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah, santri SPMAA akan menempuh jenjang pendidikan di level taruna 1 dan 2 selama dua tahun. Setelah lulus dari jenjang taruna, santri akan dikirim untuk mengabdi dalam program BBM (Belajar Bersama Masyarakat) ke daerah terluar di Indonesia. Jenjang waktu pengabdian tidak menentu, bisa berlangsung dalam jangka waktu bulanan hingga tahunan, bergantung kepada kebutuhan masyarakat di daerah pengabdian.

“Indikator kelulusan santri dalam program BBM adalah ketika mereka sudah digandoli oleh masyarakat di daerah itu saat hendak pulang, artinya kehadiran mereka betul-betul dibutuhkan,” kata Direktur Yayasan SPMAA Gus Ashabun Na’im kepada LANGIT7.ID.

Tak hanya pasca nyantri, saat sedang menempuh pendidikan di Pesantren para santri dibiasakan belajar melakukan pengabdian dan pelayanan umat. Salah satunya adalah merawat lansia yang ada di Panti Werdha Mental Kasih milik Yayasan SPMAA serta merawat ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) yang direhabilitasi di pesantren itu.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
pondok pesantren pemberdayaan masyarakat pesantren spmaa
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya